Pengikut

Senin, 22 Februari 2010

A. RANCANGAN PEMBELAJARAN MEMBACA MENULIS PERMULAAN



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Membaca permulaan merupakan tahapan proses belajar membaca bagi siswa sekolah dasar kelas awal. Siswa belajar untuk memperoleh kemampuan dan menguasai teknik-teknik membaca dan menangkap isi bacaan dengan baik. oLeh karena itu guru perlu merancang pembelajaran membaca dengan baik sehingga mampu menumbuhkan kebiasan membaca sebagai suatu yang menyenangkan.
Perlu diketahui tugas guru yang terpenting adalah sebagai pelaksana operasional pembelajaran, secara khusus mata pelajaran membaca dan menulis di kelas rendah dapat dilaksanakan dengan baik, maka dari apa itu guru hendaknya mempelajari, memahami, dan mengkaji GBPP yang sudah menjadi tanggung jawabnya, dari situlah guru dapat memperoleh gambaran sejauh mana mata pelajaran tersebut akan disajikan nantinya. Dengan demikian guru dapat merancang pembelajaran, maupun melaksanakan pembelajaran, mampu menilai atau mengevaluasi hasil belajar, yang nantinya bertujuan pada kompetensi yang digariskan dapat tercapai sesuai dengan harapan.
B. Tujuan
 Memahami rancangan pembelajaran membaca menulis permulaan
 Mengenal berbagai Pembelajaran membaca permulaan melalui permainan bahasa di kelas awal sekolah dasar.
 Mengembangkan Kajian KBK mata Pelajaran Bahasa Indonesia



BAB II
PEMBAHASAN

A. RANCANGAN PEMBELAJARAN MEMBACA MENULIS PERMULAAN
a. Hakikat membaca
Membaca adalah proses aktif dari pikiran yang dilakukan melalui mata terhadap bacaan. Dalam kegiatan membaca, pembaca memroses informasi dari teks yang dibaca untuk memperoleh makna (Vacca, 1991: 172) dalam Membaca merupakan kegiatan yang penting dalam http://mbahbrata-edu.blogspot.com/2009/08/pembelajaran-membaca-permulaan-melalui.html.08 September 2009 (Senin). kehidupan sehari-hari, karena membaca tidak hanya untuk memperoleh informasi, tetapi berfungsi sebagai alat untuk memperluas pengetahuan bahasa seseorang. Dengan demikian, anak sejak kelas awal SD perlu memperoleh latihan membaca dengan baik khususnya membaca permulaan.
Para ahli telah mendefiniskan tentang membaca dan tidak ada criteria tertentu untuk menentukan suatu definisi yang dianggap paling benar. Menurut Harris dan Sipay (1980: 8) dalam http://mbahbrata edu.blogspot.com/2009/08/pembelajaran-membaca-permulaan-melalui.html.08 September 2009 (Senin). Membaca sebagai suatu kegiatan yang memberikan respon makna secara tepat terhadap lambang verbal yang tercetak atau tertulis.Pemahaman atau makna dalam membaca lahir dari interaksi antara persepsi terhadap simbol grafis dan ketrampilan bahasa serta pengetahuan pembaca. Dalam interaksi ini, pembaca berusaha menciptakan kembali makna sebagaimana makna yang ingin disampikan oleh penulis dan tulisannya. Dalam proses membaca itu pembaca mencoba mengkreasikan apa yang dimaksud oleh penulis.

Dilain pihak, Gibbon (1993: 70-71) dalam http://mbahbrata-edu.blogspot.com/2009/08/pembelajaran-membaca-permulaan-melalui.html.08 September 2009 (Senin) mendefinisikan membaca sebagai proses memperoleh makna dari cetakan. Kegiatan membaca bukan sekedar aktivitas yang bersifat pasif dan reseptfi saja, melainkan mengehdaki pembaca untuk aktif berpikir. Untuk memperoleh makna dari teks, pembaca harus menyertakan latar belakang “bidang” pengetahuannya, topik, dan pemahaman terhadap sistem bahasa itu sendiri. Tanpa hal-hal tersebut selembar teks tidak berarti apa-apa bagi pembaca.
Dalam kegiatan membaca terjadi proses pengolahan informasi yang terdiri atas informasi visual dan informasi nonvisual (Smith, 1985: 12) dalam http://mbahbrata-edu.blogspot.com/2009/08/pembelajaran-membaca-permulaan-melalui.html.08 September 2009 (Senin). Informasi visual, merupakan informasi yang dapat diperoleh melalui indera penglihatan, sedangkan informasi nonvisual merupakan informasi yang sudah ada dalam benak pembaca.Karena setiap pembaca memiliki pengalaman yang berbeda-beda dan dia menggunakan pengalaman itu untuk menafsirkan informasi visual dalam bacaan,maka isi bacaan itu akan berubah-ubah sesuai dengan pengalamn penafsirannya (Anderson, 1972: 211) dalam http://mbahbrata-edu.blogspot.com/2009/08/pembelajaran-membaca-permulaan-melalui.html.08 September 2009 (Senin).
Pembaca yang telah lancar pada umumnya meramalkan apa yang dibacanya dan kemudian menguatkan atau menolak ramalannya itu berdasarkan apa yang terdapat dalam bacaan. Permaalan dibuat berdasarkan pada tiga kategori sistem yaitu aspek sistematis, sintaksis dan grafologis. Menurut Wilson dan peters (dalam Cleary, 1993: 284) dalam http://mbahbrata-edu.blogspot.com/2009/08/pembelajaran-membaca-permulaan-melalui.html.08 September 2009 (Senin) bahwa membaca merupakan suatu proses menysun makna melalui interaksi dinamis diantara pengetahuan pembaca yang telah ada, informasi yang telah dinyatakan oleh bahasa tulis, dan konteks situasi pembaca.


Berdasarkan uraian diatas, dapat dikatakan bahwa membaca adalah proses interaksi antara pembaca dengan teks bacaan. Pembaca berusaha memahami isi bacaan berdasarkan latar belakang pengetahuan dan kompetensi kebahasaannya.Dalam proses pemahaman bacaan tersebut, pembaca pada umumnya membuat ramalan-ramalan berdasarkan sistem semantik, sintaksis, grafologis, dan konteks situasi yang kemudian diperkuat atau ditolak sesuai dengan isi bacaan yang diperoleh.
b. Pengertian Membaca Permulaan
Membaca permulaan dalam pengertian ini adalah membaca permulaan dalam teori ketrampilan, maksudnya menekankan pada proses penyandian membaca secara mekanikal. Membaca permulaan yang menjadi acuan adalah membaca merupakan proses recoding dan decoding (Anderson, 1972: 209) dalam http://mbahbrata-edu.blogspot.com/2009/08/pembelajaran-membaca-permulaan-melalui.html.08 September 2009 (Senin). Membaca merupakan suatu proses yang bersifat fisik dan psikologis. Proses yang bersifat fisik berupa kegiatan mengamati tulisan secara visual. Dengan indera visual, pembaca mengenali dan membedakan gambar-gambar bunyi serta kombinasinya. Melalui proses recoding, pembaca mengasosiasikan gambargambar bunyi beserta kombinasinya itu dengan bunyi-bunyinya. Dengan proses tersebut, rangkaian tulisan yang dibacanya menjelma menjadi rangkaian bunyi bahasa dalam kombinasi kata, kelompok kata, dan kalimat yang bermakna.
Disamping itu, pembaca mengamati tanda-tanda baca untuk mrmbantu memahami maksud baris-baris tulisan. Proses psikologis berupa kegiatan berpikir dalam mengolah informasi. Melalui proses decoding, gambar-gambar bunyi dan kombinasinya diidentifikasi, diuraikan kemudian diberi makna. Proses ini melibatkan knowledge of the world dalam skemata yang berupa kategorisasi sejumlah pengetahuan dan pengalaman yang tersimpan dalam gudang ingatan (Syafi’ie, 1999: 7) dalam http://mbahbrata-edu.blogspot .com/2009/08/pembelajaran-membaca-permulaan-melalui.html.08 September 2009 (Senin).
Menurut La Barge dan Samuels (dalam Downing and Leong, 1982: 206) dalam http://mbahbrata-edu.blogspot.com/2009/08/pembelajaran-membaca-permulaan-melalui.html.08 September 2009 (Senin) proses membaca permulaan melibatkan tiga komponen, yaitu :
 Visual Memory (VM),
 Phonological Memory (PM), dan
 Semantic Memory (SM).
Lambang lambang fonem tersebut adalah kata, dan kata dibentuk menjadi kalimat. Proses pembentukan tersebut terjadi pada ketiganya. Pada tingkat VM, huruf, kata dan kalimat terlihat sebagai lambang grafis, sedangkan pada tingkat PM terjadi proses pembunyian lambang. Lambang tersebut juga dalam bentuk kata, dan kalimat. Membaca pada tingkatan ini merupakan kegiatan belajar mengenal bahasa tulis.
Melalui tulisan itulah siswa dituntut dapat menyuarakan lambang-lambang bunyi bahasa tersebut,untuk memperoleh kemampuan membaca diperlukan tiga syarat, yaitu kemampuan membunyikan (a) lambang-lambang tulis, (b) penguasaan kosakata untuk memberi arti, dan (c) memasukkan makna dalam kemahiran bahasa.Membaca permulaan merupakan suatu proses ketrampilan dan kognitif. Proses ketrampilan menunjuk pada pengenalan dan penguasaan lambang-lambang fonem, sedangkan proses kognitif menunjuk pada penggunaan lambang-lambang fonem yang sudah dikenal untuk memahami makna suatu kata atau kalimat.
c. Pembelajaran Membaca Permulaan
Pembelajaran memabaca permulaan diberikan di kelas I dan II. Tujuannya adalah agar siswa memiliki kemampuan memahami dan menyuarakan tulisan dengan intonasi yang wajar, sebagai dasar untuk dapat membaca lanjut (Akhadiah, 1991/1992: 31) dalam. http://mbahbrata-edu.blogspot.com/2009/08/pembelajaran-membaca-permulaan-melalui.html.08 September 2009 (Senin).
Pembelajaran membaca permulaan merupakan tingkatan proses pembelajaran membaca untuk menguasai sistem tulisan sebagai representasi visual bahasa. Tingkatan ini sering disebut dengan tingkatan belajar membaca (learning to read). Membaca lanjut merupakan tingkatan proses penguasaan membaca untuk memperoleh isi pesan yang terkandung dalam tulisan.Tingkatan ini disebut sebagai membaca untuk belajar (reading to learn). Kedua tingkatan tersebut bersifat kontinum, artinya pada tingkatan membaca permulaan yang fokus kegiatannya penguasaan sistem tulisan, telah dimulai pula pembelajaran membaca lanjut dengan pemahaman walaupun terbatas. Demikian juga pada membaca lanjut menekankan pada pemahaman isi bacaan, masih perlu perbaikan dan penyempurnaan penguasaan teknik membaca permulaan (Syafi’ie,1999: 16) dalam http://mbahbrata-edu.blogspot.com/2009/08/pembelajaran-membaca-permulaan-melalui.html.08 September 2009 (Senin).
d. Pengertian Permainan
Permainan merupakan alat bagi anak untuk menjelajahi dunianya, dari yang tidak dikenali sampai pada yang diketahui, dan dari yang tidak dapat diperbuatnya sampai mampu melakukannya. Bermain bagi anak memiliki nilai dan ciri yang penting dalam kemajuan perkembangan kehidupan sehari-hari. Pada permulaan setiap pengalaman bermain memiliki resiko. Ada resiko bagi anak untuk belajar misalnya naik sepeda sendiri, belajar meloncat. Unsur lain adalah pengulangan. Anak mengkonsolidasikan ketrampilannya yang harus diwujudkannya dalam berbagai permainan dengan nuansa yang berbeda. Dengan cara ini anak memperoleh pengalaman tambahan untuk melakukan aktivitas lain. Melalui permainan anak dapat menyatakan kebutuhannya tanpa dihukum atau terkena teguran misalnya bermain boneka diumpamakan sebagai adik yang sesungguhnya (Semiawan, 2002: 21) dalam http://mbahbrata-edu.blogspot.com/2009/08/pembelajaran-membaca-permulaan-melalui.html.08 September 2009 (Senin).


Berkaitan dengan permainan Pellegrini dan Saracho, 1991 (dalam Wood,1996:3, http://mbahbrata-edu.blogspot.com/2009/08/pembelajaran-membaca-permulaan-melalui.html.08 September 2009 (Senin)) permainan memiliki sifat sebagai berikut:
1. Permaianan dimotivasi secara personal, karena memberi rasa kepuasan.
2. Pemain lebih asyik dengan aktivitas permainan (sifatnya spontan) ketimbang pada tujuannya.
3. Aktivitas permainan dapat bersifat nonliteral.
4. Permainan bersifat bebas dari aturan aturan yang dipaksakan dari luar, dan aturan-aturan yang ada dapat dimotivasi oleh para pemainnya.
5. Permainan memerlukan keterlibatan aktif dari pihak pemainnya.
Menurut Framberg (dalam Berky, 1995, http://mbahbrata-edu.blogspot.com/2009/08/pembelajaran-membaca-permulaan-melalui.html.08 September 2009 (Senin)) permainan merupakan aktivitas yang bersifat simbolik, yang menghadirkan kembali realitas dalam bentukpengandaian misalnya, bagaimana jika, atau apakah jika yang penuh makna. Dalam hal ini permainan dapat menghubungkan pengalaman-pengalaman menyenangkan atau mengasyikkan, bahkan ketika siswa terlibat dalam permainan secara serius dan menegangkan sifat sukarela dan motivasi datang dari dalam diri siswa sendiri secara spontan. Menurut Hidayat (1980:5) dalam http://mbahbrata-edu.blogspot.com/2009/08/pembelajaran-membaca-permulaan-melalui.html.08 September 2009 (Senin) permainan memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Adanya seperangkat peraturan yang eksplisit yang mesti diindahkan oleh para pemain,
2. Adanya tujuan yang harus dicapai pemain atau tugas yang mesti dilaksanakan.
e. Permainan Bahasa
Permainan bahasa merupakan perminan untuk memperoleh kesenangan dan untuk melatih ketrampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca dan menulis). Apabila suatu permainan menimbulkan kesenangan tetapi tidak memperoleh ketrampilan berbahasa tertentu, maka permainan tersebut bukan permainan bahasa. Sebaliknya, apabila suatu kegiatan melatih ketrampilan bahasa tertentu, tetapi tidak ada unsur kesenangan maka bukan disebut permainan bahasa. Dapat disebut permainan bahasa, apabila suatu aktivitas tersebut mengandung kedua unsur kesenangan dan melatih ketrampilan berbahasa (menyimak,berbicara, membaca dan menulis).
Setiap permainan bahasa yang dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran harus secara langsung dapat menunjang tercapainya tujuan pembelajaran. Anak-anak pada usia 6 – 8 tahun masih memerlukan dunia permainan untuk membantu menumbuhkan pemahaman terhadap diri mereka. Pada usia tersebut, anak-anak mudah merasa jenuh belajar di kelas apabila dijauhkan dari dunianya yaitu dunia bermain. Permainan hampir tak terpisahkan dengan kehidupan manusia. Baik bayi, anak-anak, remaja, orang dewasa semua membutuhkan permainan. Tentunya dengan jenis dan sifat permainan yang berbeda-beda sesuai dengan jenis kelamin, bakat dan minat masing-masing.
Tujuan utama permainan bahasa bukan semata-mata untuk memperoleh kesenangan, tetapi untuk belajar ketrampilan berbahasa tertentu misalnya menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Aktivitas permainan digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan pembelajaran dengan cara yang menyenangkan. Menurut Dewey (dalam Polito, 1994) dalam http://mbahbrata-edu.blogspot.com/2009/08/pembelajaran-membaca-permulaan-melalui.html.08 September 2009 (Senin) bahwa interaksi antara permainan dengan pembelajaran akan memberikan pengalaman belajar yang sangat penting bagi anak-anak. Menang dan kalah bukan merupakan tujuan utama permainan.

Dalam setiap permainan terdapat unsur rintangan atau tantangan yang harus dihadapi. Tantangan tersebut kadang-kadang berupa masalah yang harus diselesaikan atau diatasi, kadang pula berupa kompetisi. Masalah yang harus diselesaikan itulah yang dapat melatih ketrampilan berbahasa.Alat permainan baik realistik maupun imajinatif, buatan pabrik maupun alamiah memiliki peranan yang cukup besar dalam membantu merangsang anak dalam menggunakan bahasa. Keberadaan alat-alat permainan dapat memabntu dan meningkatkan daya imajinasi anak.
f. Pembelajaran Membaca Melalui Permainan Bahasa
Belajar konstrultivisme mengisyaratkan bahwa guru tidak memompakan pengetahuan ke dalam kepala pebelajar, melainkan pengetahuan diperoleh melalui suatu dialog yang ditandai oleh suasana belajar yang bercirikan pengalaman dua sisi. Ini berarti bahwa penekanan bukan pada kuantitas materi, melainkan pada upaya agar siswa mampu menggunakan otaknya secara efektif dan efisien sehingga tidak ditandai oleh segi kognitif belaka, melainkan oleh keterlibatan emosi dan kemampuan kreatif. Dengan demikian proses belajar membaca perlu disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan siswa (Semiawan, 2002:5) dalam http://mbahbrata-edu.blogspot.com/2009/08/pembelajaran-membaca-permulaan-melalui.html.08 September 2009 (Senin).
Dalam hal ini guru tidak hanya sekedar melaksanakan apa yang ada dalam kurikulum, melainkan harus dapat menginterpretasi dan mengembangkan kurikulum menjadi bentuk pembelajaran yang menarik. Pembelajaran dapat menarik apabila guru memiliki kreativitas dengan memasukkan aktivitas permainan ke dalam aktivtas belajar siswa. Penggunaan bentuk-bentuk permainan dalam pembelajaran akan memberi iklim yang menyenangkan dalam proses belajar, sehingga siswa akan belajar seolah-olah proses belajar siswa dilakukan tanpa adanya keterpaksaan, tetapi justru belajar dengan rasa keharmonisan. Selain itu, dengan bermain siswa dapat berbuat agak santai.

Dengan cara santai tersebut, sel-sel otak siswa dapat berkembang akhirnya siswa dapat menyerap informasi, dan memperoleh kesan yang mendalam terhadap materi pelajaran. Materi pelajaran dapat disimpan terus dalam ingatan jangka panjang (Rubin, 1993 dalam Rofi’uddin, 2003) dalam http://mbahbrata-edu.blogspot.com/2009/08/pembelajaran-membaca-permulaan-melalui.html.08 September 2009 (Senin).Permainan dapat menjadi kekuatan yang memberikan konteks pembelajaran dan perkembangan masa kanak-kanak awal. Untuk itu perlu, diperhatikan struktur dan isi kurikulum sehingga guru dapat membangun kerangka pedagogis bagi permainan. Struktur kurikulum terdiri atas :
1. Perencanaan yang mencakup penetapan sasaran dan tujuan,
2. Pengorganisasian, dengan mempertimbangkan ruang, sumber, waktu dan peran orang dewasa,
3. Pelaksanaan, yang mencakup aktivitas dan perencanaan, pembelajaran yang diinginkan, dan
assesmen dan evaluasi yang meliputi alur umpan balik pada perencanaan (Wood, 1996:87) dalam http://mbahbrata-edu.blogspot.com/2009/08/pembelajaran-membaca-permulaan-melalui.html.08 September 2009 (Senin). Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, guru dapat melakukan simulasi pembelajaran dengan menggunakan kartu berseri (flash card). Kartu-kartu berseri tersebut dapat berupa kartu bergambar. Kartu huruf, kartu kata, kartu kalimat. Dalam pembelajaran membaca permulaan guru dapat menggunakan Strategi bermain dengan memanfaatkan kartu-kartu huruf.
Kartu-kartu huruf tersebut digunakan sebagai media dalam permainan menemukan kata. Siswa diajak bermain dengan menyusun huruf-huruf menjadi sebuah kata yang berdasarkan teka-teki atau soal-soal yang dibuat oleh guru. Titik berat latihan menyusun huruf ini adalah ketrampilan mengeja suatu kata (Rose and Roe, 1990) dalam http://mbahbrata-edu.blogspot.com/2009/08/pembelajaran-membaca-permulaan-melalui.html.08 September 2009 (Senin).
Dalam pembelajaran membaca teknis menurut Mackey (dalam Rofi’uddin,2003:44, http://mbahbrata-edu.blogspot.com/2009/08/pembelajaran-membaca-permulaan-melalui.html.08 September 2009 (Senin)) guru dapat menggunakan strategi permainan membaca, misalnya cocokkan kartu, ucapkan kata itu, temukan kata itu, kontes ucapan, temukan kalimat itu, baca dan berbuat dan sebagainya. Kartu-kartu kata maupun kalimat digunakan sebagai media dalam permainan kontes ucapan. Para siswa diajak bermain dengan mengucapkan atau melafalkan kata-kata yang tertulis pada kartu kata. Pelafalan kata-kata tersebut dapat diperluas dalam bentuk pelafalan kalimat bahasa Indonesia. Yang dipentingkan dalam latihan ini adalah melatih siswa mengucapkan bunyi-bunyi bahasa (vokal, konsonan, dialog, dan cluster) sesuai dengan daerah artikulasinya (Hidayat dkk, 1980) dalam http://mbahbrata-edu.blogspot.com/2009/08/pembelajaran-membaca-permulaan-melalui.html.08 September 2009 (Senin).
Untuk memilih dan menentukan jenis permainan dalam pembelajaran membaca permulaan di kelas, guru perlu mempertimbangkan tujuan pembelajaran, materi pembelajaran dan kondisi siswa maupun sekolah. Dalam tujuan pembelajaran, guru dapat mengembangkan salah satu aspek kognitif, psikomotor atau sosial atau memadukan berbagai aspek tersebut. Guru juga perlu mempertimbangkan materi pembelajaran, karena bentuk permainan tertentu cocok untuk materi tertentu. Misalnya, untuk ketrampilan berbicara guru dapat menyediakan jenis permainan dua boneka, karena dengan permainan ini dapat mendorong siswa berani tampil secara ekspresif.
g. Permainan Kata
Permainan kata dan huruf dapat memberikan suatu situasi belajar yang santai dan menyenagkan. Siswa dengan aktif dilibatkan dan dituntut untuk memberikan tanggapan dan keputusan. Dalam memainkan suatu permainan, siswa dapat melihat sejumlah kata berkali-kali, namun tidak dengan cara yang membosankan. Guru perlu banyak memberikan sanjungan dan semangat. Hindari kesan bahwa siswa melakukan kegagalan. Jika permainan sukar dilakukan oleh siswa, maka guru perlu membantu agar siswa merasa senang dan berhasil dalam belajar.
1. Memilih Kata
Cara membuat
Pada kartu yang panjang ditempeli sebuah gambar sederhana. Di samping gambar ditulis suatu pilihan tiga kata, satu yang sesuai dengan gambar dan dua yang mirip dengan gambar. Pada punggung kartu warnai suatu ruang untuk menyatakan kata yang benar. Kemudian disediakan jepit kertas.
Cara Bermain
Dua orang siswa memutuskan kata mana yang sepadan dengan gambar, kemudian menaruh jepit di samping kartu kata itu. Untuk mengecek baliklah kartu.
2. Melengkapi Kalimat
Pada kartu yang panjang tertulis kalimat dengan satu kata hilang. Pada kartu tersebut diberi celah untuk kata-kata yang hilang. Kemudian membuat kartu gambar yang cocok dengan celah itu.
Cara membuat
Sebuah kalimat ditulis diatas kartu panjang dengan satu kata dihilangkan.Pada kata yang dihilangkan tersebut dilubangi untuk menyelipkan kartu yang cocok untuk melengkapi kalimat. Kemudian membuat kartu-kartu kata yang salah satunya cocok untuk celah pada kartu kalimat.
Cara Bermain
Satu atau dua orang membaca kalimat dan mencocokkan kartu-kartu gambar dalam spasi yang kosong. Kemudian siswa menyelipkan kartu kata yang cocok pada celah kartu kalimat. Batu Loncatan


Cara Membuat
Karton atau kertas digunting menjadi sejumlah bundaran. Pada bundaran tersebut ditulis nama anggota keluarga atau teman-teman. Kertas dapat bermacam-macam warna.
Cara Bermain
Guru melakukan suatu perintah, misalnya “Loncat ke Ayah”. Siswa harus menemukan bundaran yang benar dan melompat disitu sambil menunggu perintah selanjutnya. Dapat juga diubah menjadi sebuah permainan pembentukan kalimat. Dengan memasukkan kata kerja dan bagian-bagian lain dari bahasa lisan. Siswa harus melompat ke bundaran-bundaran itu dalam urutan yang benar agar tersusun sebuah kalimat.
B. Pembelajaran membaca permulaan melalui permainan bahasa di kelas awal sekolah dasar.
Membaca merupakan salah satu ketrampilan berbahasa yang diajarkan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar. Keempat aspek tersebut dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu:
(1) ketrampilan yang bersifat menerima (reseptif) yang meliputi ketrampilan membaca dan menyimak,
(2) ketrampilan yang bersifat mengungkap (produktif) yang meliputi ketrampilan menulis dan berbicara (Muchlisoh,1992:119) dalam http://mbahbrata-edu.blogspot.com/2009/08/pembelajaran-membaca-permulaan-melalui.html.08 September 2009 (Senin).
Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar (SD) bertujuan meningkatkan kemampuan siswa berkomunikasi secara efektif, baik lisan maupun tertulis. Keterampilan membaca sebagai salah satu keterampilan berbahasa tulis yang bersifat reseptif perlu dimiliki siswa SD agar mampu berkomunikasi secara tertulis. Oleh karena itu, peranan pengajaran Bahasa Indonesia khususnya pengajaran membaca di SD menjadi sangat penting. Peran tersebut semakin penting bila dikaitkan dengan tuntutan pemilikan kemahirwacanaan dalam abad informasi (Joni,1990) dalam http://mbahbrata-edu.blogspot.com/2009/08/pembelajaran-membaca-permulaan-melalui.html.08 September 2009 (Senin).
Pengajaran Bahasa Indonesia di SD yang bertumpu pada kemampuan dasar membaca dan menulis juga perlu diarahkan pada tercapainya kemahirwacanaan. Ketrampilan membaca dan menulis, khususnya keterampilan membaca harus segera dikuasai oleh para siswa di SD karena ketrampilan ini secara langsung berkaitan dengan seluruh proses belajar siswa di SD. Keberhasilan belajar siswa dalam mengikuti proses kegiatan belajar-mengajar di sekolah sangat ditentukan oleh penguasaan kemampuan membaca mereka.
Siswa yang tidak mampu membaca dengan baik akan mengalami kesulitan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran untuk semua mata pelajaran. Siswa akan mengalami kesulitan dalam menangkap dan memahami informasi yang disajikan dalam berbagai buku pelajaran, buku-buku bahan penunjang dan sumber-sumber belajar tertulis yang lain. Akibatnya, kemajuan belajarnya juga lamban jika dibandingkan dengan teman-temannya yang tidak mengalami kesulitan dalam membaca.
Pembelajaran membaca di SD dilaksanakan sesuai dengan pembedaan atas kelas-kelas awal dan kelas-kelas tinggi. Pelajaran membaca dan menulis di kelaskelas awal disebut pelajaran membaca dan menulis permulaan, sedangkan di kelas-kelas tinggi disebut pelajaran membaca dan menulis lanjut. Pelaksanaan membaca permulaan di kelas I sekolah dasar dilakukan dalam dua tahap, yaitu :
 Membaca periode tanpa buku dan membaca dengan menggunakan buku. Pembelajaran membaca tanpa buku dilakukan dengan cara mengajar dengan menggunakan media atau alat peraga selain buku misalnya kartu gambar, kartu huruf, kartu kata dan kartu kalimat,
 Membaca dengan buku merupakan kegiatan membaca dengan menggunakan buku sebagai bahan pelajaran.
Tujuan membaca permulaan di kelas I yaitu agar “Siswa dapat membaca kata-kata dan kalimat sederhana dengan lancar dan tepat (Depdikbud, 1994/1995:4) dalam http://mbahbrata-edu.blogspot.com/2009/08/pembelajaran-membaca-permulaan-melalui.html.08 September 2009 (Senin). Kelancaran dan ketepatan anak membaca pada tahap belajar membaca permulaan dipengaruhi oleh keaktifan dan kreativitas guru yang mengajar di kelas I. Dengan kata lain, guru memegang peranan yang strategis dalam meningkatkan ketrampilan membaca siswa. Peranan strategis tersebut menyangkut peran guru sebagai fasilitator, motivator, sumber belajar, dan organisator dalam proses pembelajaran. guru yang berkompetensi tinggi akan sanggup menyelenggarakan tugas untuk mencerdaskan bangsa, mengembangkan pribadi manusia Indonesia seutuhnya dan membentuk ilmuwan dan tenaga ahli.
C. Kajian KBK Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
a. KBK mata pelajaran Bahasa Indonesia SD
Mata pelajaran Bahasa Indonesia SD merupakan bagian dari KBK secara keseluruhan, maka sebelum membahas KBK mata pelajaran bahasa indonesia SD terlebih dahulu kita bicarakan apakah KBK itu secara umum. KBK merupakan perangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai siswa., penilaian kegiatan belajar mengajar, pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah. Kurikulum ini berorentasi pada hasil dan dampak yang diharapkan muncul pada diri peserta didik melalui serangkai pengalaman belajar yang bermakna dan keberagaman yang dapat dimanifulasikan sesuai dengan kebutuhannya.
KBK merupakan kerangka inti yang mempunyai empat kompenen yaitu :
1. Kurikulum dan hasil belajar
2. Penilaian berbasis kelas
3. Kegiatan belajar mengajar, dan
4. Pengelolaan kurikulum berbasis sekolah.

Kompenen-kompenen yang terdapat di dalam KBK mata pelajaran bahasa indonesia di SD yakni :
1. Pengertian KBK mata pelajaran bahasa indonesia di SD
Bahasa memungkinkan manusia untuk saling berhubungan (komunikasi), saling berbagi pengalaman, saling belajar untuk meningkatkan kemampuan intelektual, kesusatraan, sebagai salah satu sarana untuk menuju pengalaman tersebut. KBK mata pelajaran bahasa indonesia di SD adalah program untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, berbahasa dan sikap positif terhadap bahasa indonesia. Jadi KBK bahasa indonesia bahasa indonesia dan sastra SD meliputi tiga ranah yaitu, kognitif, afektif, dan psikomotorik.
2. Fungsi dan Tujuan
Fungsi mata pelajaran bahasa dan sastra indonesia dalam KBK adalah sarana pembinaan persatuan dan kesatuan bangsa, sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka pelestarian dan pengembangan budaya, sarana peningkatan IPTEK dan seni, sarana penyebarluasan pemakaian bahasa indosesia untuk berbagai keperluan, sarana pengembangan penalaran, dan sarana pemahaman beragam budaya indonesia melalui kesusatraan indonesia.
Tujuan umum pembelajaran bahasa indonesia SD dalam KBK adalah siswa menghargai dan mengembangkan bahasa indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara, siswa memahami bahasa indonesia dari segi bentuk, makna, dan fungsi, serta menggunakannya dengan tepat dan kreatif dalam bermacam-macam tujuan, siswa memiliki kemampuan menggunakan bahasa indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, kematangan emosional, dan sosial, siswa memiliki disiplin dalam berfikir dan berbahasa.
3. Kompenen Umum
Kompetensi di sini maksudnya adalah pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. KBK mata pelajaran bahasa indonesia SD ada enam aspek, yaitu :
a. Mendengarkan
Berdaya tahan dalam konsentrasi mendengarkan selama tiga puluh menit, dan mampu menyerap gagasan pokok, perasaan dari cerita, berita, dan lain-lain yang di dengar serta mampu memberikan respon secara tepat
b. Berbicara
Mengungkapkan gagasan dan perasaan, menyampaikan sambutan berdialog, menyampaikan pesan, serta bertukar pengalaman, dan bermain peran.
c. Membaca
Membaca lancar berbagai teks dan mampu menjelaskan isinya.
d. Menulis
Menulis karangan naratif dan non naratif dengan tulisan yang rapih dan jelas dengan menggunakan kosa kata, kalimat, ejaan, yang benar sehingga dapat dipahami oleh pembaca.
e. Kebahasaan
Memahami atau menggunakan kalimat lengkap, tak lengkap dalam berbagai konteks, imbuhan, penggunaan kosa kata, jenis kata ejaan, pelafalan, serta intonasi bahasa indonesia.
f. Apresiasi bahasa dan sastra indonesia
Mengapresiasi dan berekspresi sastra melalui kegiatan mendengarkan, menonton, membaca, dan melisankan hasil sastra berupa dongeng, puisi, drama pendek, serta menulis cerita dan puisi.
4. Hasil Belajar
Hasil belajar disini memuat gambaran materi yang disajikan tiap-tiap aspek dalam bahasa indonesia, yang mendukung tercapainya kompetensi yang telah ditetapkan. Dari komponen hasil belajar yang tercantum dalam KBK, guru harus dapat mengembangkan materi yang sesuai dengan peserta didiknya.
5. Pendekatan dan pengorganisasian materi
Pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran bahasa indonesia adalah memadukan antarberbagai pendekatan yaitu : Pendekatan Komunikatif, Pembelajaran terpadu, Pendekatan keterampilan proses dan CBNS
6. Rambu-Rambu
Rambu-rambu dalam KBK, merupakan penjelasan dan pedoman bagi pelaksana kurikulum, untuk mengembangkan, menyusun perencanaan pembelajaran, dan melaksanakan pembelajaran. Dalam KBK bahasa indonesia SD terdapat tujuan butir rambu-rambu, yang intinya dapat dikemukaan berikut :
a. pada hakekatnya belajar bahasa adalah belajar komunikasi, karena pembelajaran bahasa harus diarahkan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi. Selaim itu untuk meningkatkan kemampuan berfikir dan bernalar serta memperluas wawasan dan mempertajam kepekaan perasaan.
b. Kemampuan dasar, hasil belajar dan indikator pencapaian hasil belajar yang tercantum dalam KBK yang merupakan standar nasional dan bahan minimal yang harus dikuasai oleh siswa. Pelaksanaan pembelajaran dapat dikembangkan sesuai dengan situasi dan kondisi setempat.
c. Kompetensi dasar bahasa indonesia SD mencakup aspek mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, serta kebahasaan, aspek –aspek ini harus dikembangkan secara seimbang
d. Diversifikasi dalam KBK ditujukan dengan tanda (*) bagi siswa yang memiliki kemampuan lebih.


D. Pengembangan KBK Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Sekolah Dasar
Mata pelajaran bahasa indonesia SD, merupakan mata pelajaran strategis, karena dengan bahasalah pendidikan dapat menularkan ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan informasi kepada siswa, atau sebaliknya. Tanpa bahasa tidak mungkin para siswa dapat menerima itu semua dengan baik. Karena itu, guru sebagai pengemban tugas operasional pendidikan atau pembelajaran di sekolah, dituntut agar dapat mengkaji mengembangkan kurikulum dengan benar.
KBK mata pelajaran bahasa indonesia SD mempunyai enam aspek pembelajaran yang harus dikembangkan di SD dan terdiri atas empat keterampilan utama (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis), ditambah dua aspek penunjang yakni kebahasaan dan apresiasi bahasa dan sastra indonesia SD. Aspek –aspek mata pelajaran bahasa indonesia itu dalam pelaksanaan pembelajarannya saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya. Namun demikian aspek pembelajaran diberikan seimbang setiap tatap muka, guru dapat menentukan satu penekanan atau fokus saja, agar pembelajaran dapat dilaksanakan secara cermat dan efektif.
Dari kompenen KBK mata pelajaran bahasa indonesia SD, guru atau pelaksana pendidikan lainnya diharapkan dapat mengembangkan minimal dalam bentuk silabus. Silabus merupakan seperangkat rencana tentang kegiatan pembelajaran, pengelolaan kelas, penilaian hasil belajar. Adapun komponen-komponen minimal dalam silabus adalah :
1. Identitas mata pelajaran,
2. Kompetensi dasar, hasil belajar,indikator,
3. Langkah pembelajaran
4. Sumber atau saran pembelajaran
5. Penilaian.
Pembelajaran di kelas rendah SD (kelas I dan II)disajikan dengan strategis tematik (terpadu). Karena siswa kelas rendah mempunyai kecenderungan memandang sesuatu secara utuh.
BAB III
KESIMPULAN

 Membaca adalah proses aktif dari pikiran yang dilakukan melalui mata terhadap bacaan. Dalam kegiatan membaca, pembaca memroses informasi dari teks yang dibaca untuk memperoleh makna (Vacca, 1991: 172) dalam Membaca merupakan kegiatan yang penting.
 Membaca permulaan dalam pengertian ini adalah membaca permulaan dalam teori ketrampilan, maksudnya menekankan pada proses penyandian membaca secara mekanikal. Membaca permulaan yang menjadi acuan adalah membaca merupakan proses recoding dan decoding.
 Pembelajaran membaca permulaan merupakan tingkatan proses pembelajaran membaca untuk menguasai sistem tulisan sebagai representasi visual bahasa.
 Membaca merupakan salah satu ketrampilan berbahasa yang diajarkan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar. Keempat aspek tersebut dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu:
1. ketrampilan yang bersifat menerima (reseptif) yang meliputi ketrampilan membaca dan menyimak,
2. ketrampilan yang bersifat mengungkap (produktif) yang meliputi ketrampilan menulis dan berbicara (Muchlisoh,1992:119) dalam http://mbahbrata-edu.blogspot.com/2009/08/pembelajaran-membaca-permulaan-melalui.html.08 September 2009 (Senin).
 KBK mata pelajaran bahasa indonesia SD mempunyai enam aspek pembelajaran yang harus dikembangkan di SD dan terdiri atas empat keterampilan utama (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis), ditambah dua aspek penunjang yakni kebahasaan dan apresiasi bahasa dan sastra indonesia SD.

(Pemerolehan Bahasa Anak, Kurikulum Dan Pembelajaran Bahasa Indonesia d Kelas Rendah, Pendekatan dan Metode Bahasa Indonesia di Kelas Rendah)


(Pemerolehan Bahasa Anak, Kurikulum Dan Pembelajaran Bahasa Indonesia d Kelas Rendah, Pendekatan dan Metode Bahasa Indonesia di Kelas Rendah) Mata Kuliah : Pendidikan Bahasa Indonesia Kelas Rendah Dosen Pembimbing : Dr. Suwarjo, M.Pd Oleh: Heru Yuono 0713053032 Semester V. B BAB I A. PERKEMBANGAN BAHASA ANAK Darjowidjojo (dalam Tarigan dkk.,1998.,dalam Faisal dkk, 2009:2-16) mengungkapkan bahwa pemerolehan bahasa anak itu tidaklah tiba-tiba atau sekaligus, tetapi bertahap. Kemajuan maupun berbahasa merekan berjalan seiring dengan perkembangan fisik, mental, intelektual, dan sosialnya. Oleh karena itu, perkembangan bahasa anak ditandai oleh keseimbangan dinamis atau suatu rangkaian kesatuan yang bergerak dari bunyi-bunyi atau ungkapan yang sederhana menuju tuturan yang lebih kompleks. Tangisan, bunyi-bunyi atau ucapan yang sederhana tak bermakna, dan celotehan bayi merupakan jembatan yang memfasilitasi alur perkembangan bahasa anak menuju kemampuan berbahasa yang lebih sempurna. Bagi anak, celotehan merupakan semacam latihan untuk menguasai gerak artikulatoris (alat ucap) yang lama kelamaan dikaitkan dengan kebermaknaan bentuk bunyi yang diujarkannya. Keterampilan berpikir diperlukan agar semua aspek keterampilan berbahasa berkembang. Piaget, Bruner, dan Vygantsky telah mengemukakan teori-teori perkembangan kognitif yang paling komprehensif (Athey, lewat Ross dan Roe, 1990:30, dalam Darmiyati dkk, 1996:5). Ketiga pakar tersebut mengetahui bahwa ada hubungan antara pikiran dan bahasa, tetapi mereka berbeda dalam hal cara pikiran dan bahasa itu berhubungan. Vygatsky yakin bahwa bahasa merupakan dasar bagi pembentukan konsep dan pikiran. Kegiaran tidak mungkin terjadi tanpa menggunakan kata-kata untuk mengungkapkan buah pikiran. Dia menegaskan bahwa bahasa diperlukan untuk setiap jenis kegiatan belajar. Berbeda dengan Vygatsky, Piaget (dalam Darmiyati, 1996:6) mengatakan bahwa bahasa itu penting untuk beberapa jenis kegiatan belajar tetapi tidak untuk semua kegiatan belajar. Piaget yakin bahwa perkembangan kognitif anak mendahului perkembangan bahasanya. Piaget membagi perkembangan kognitif ke dalam empat fase, yaitu fase sensorimotor, fase praoperasional, fase operasi konkret, dan fase operasi formal (Piaget, 1972: 49-91.,dalam http://toyo-utoy.blogspot.com/2009/05/kognitif-anak-usia-dini.html). a. Fase Sensorimotor (usia 0 - 2 tahun) Pada masa dua tahun kehidupannya, anak berinteraksi dengan dunia di sekitarnya, terutama melalui aktivitas sensoris (melihat, meraba, merasa, mencium, dan mendengar) dan persepsinya terhadap gerakan fisik, dan aknvitas yang berkaitan dengan sensoris tersebut. Koordinasi aktivitas ini disebut dengan istilah sensorimotor. Fase sensorimotor dimulai dengan gerakan-gerakan refleks yang dimiliki anak sejak ia dilahirkan. Fase ini berakhir pada usia 2 tahun. Pada masa ini, anak mulai membangun pemahamannya tentang lingkungannya melalui kegiatan sensorimotor, seperti menggenggam, mengisap, melihat, melempar, dan secara perlahan ia mulai menyadari bahwa suatu benda tidak menyatu dengan lingkungannya, atau dapat dipisahkan dari lingkungan di mana benda itu berada. Selanjutnya, ia mulai belajar bahwa benda-benda itu memiliki sifat-sifat khusus. Pada akhir usia 2 tahun, anak sudah menguasai pola-pola sensorimotor yang bersifat kompleks, seperti bagaimana cara mendapatkan benda yang diinginkannya (menarik, menggenggam atau meminta), menggunakan satu benda dengzur tujuan yangb erbeda. Dengan benda yanga da di tangannya,ia melakukan apa yang diinginkannya. Kemampuan ini merupakan awal kemampuan berpilar secara simbolis, yaitu kemampuan untuk memikirkan suatu objek tanpa kehadiran objek tersebut secara empiris. b. Fase Praoperasional (usia 2 - 7 tahun) Pada fase praoperasional, anak mulai menyadari bahwa pemahamannya tentang benda-benda di sekitarnya tidak hanya dapat dilakukan melalui kegiatan sensorimotor, akan tetapi juga dapat dilakukan melalui kegiatan yang bersifat simbolis. Kegiatan simbolis ini dapat berbentuk melakukan percakapan melalui telepon mainan atau berpura-pura menjadi bapak atau ibu, dan kegiatan simbolis lainnva Fase ini rnemberikan andil yang besar bagi perkembangan kognitif anak. Pada fase praoperasional, anak trdak berpikir secara operasional yaitu suatu proses berpikir yang dilakukan dengan jalan menginternalisasi suatu aktivitas yang memungkinkan anak mengaitkannya dengan kegiatan yang telah dilakukannya sebelumnya. Subfase fungsi simbolis terjadi pada usia 2 - 4 tahun. Pada masa ini, anak telah memiliki kemampuan untuk menggarnbarkan suatu objek yang secara fisik tidak hadir. Kemampuan ini membuat anak dapat rnenggunakan balok-balok kecil untuk membangun rumah-rumahan, menyusun puzzle, dan kegiatan lainnya. Pada masa ini, anak sudah dapat menggambar manusia secara sederhana. Subfase berpikir secara egosentris terjadi pada usia 2-4 tahun. Berpikir secara egosentris ditandai oleh ketidakmampuan anak untuk memahami perspektif atau cara berpikir orang lain. Benar atau tidak benar, bagl anak pada fase ini, ditentukan oleh cara pandangnya sendiri yang disebut dengan istilah egosentris. Subfase berpikir secata intuitif tenadi pada usia 4 - 7 tahun. Masa ini disebut subfase berpikir secara intuitif karena pada saat ini anah kelihatannva mengerti dan mengetahui sesuatu, seperti menyusun balok meniadi rumah-rumahan, akan tetapi pada hakikatnya tidak mengetahui alasan-alasan yang menyebabkan balok itu dapat disusun meniadi rumah. Dengan kata lain, anak belum memiliki kemampuan untuk berpikir secara kritis tentang apa yang ada dibalik suatu kejadian. c. Fase Operasi Konkret (usia 7- 12 tahun) Pada fase operasi konkret, kemampuan anak untuk berpikir secara logis sudah berkembang, dengan syarat, obyek yang menjadi sumber berpikir logis tersebut hadir secara konkret. Kemampuan berpikir logis ini terwujud dalam kemampuan mengklasifikasikan obyek sesuai dengan klasifikasinya, mengurutkan benda sesuai dengan urutannya, kemampuan untuk memahami cara pandang orang lain, dan kemampuan berpikir secara deduktif. d. Fase Operasi Formal (12 tahun sampai usia dewasa) Fase operasi formal ditandai oleh perpindahan dari cara berpikir konkret ke cara berpikir abstrak. Keulampuan berpikir abstrak dapat dilihat dari kemampuan mengemukakan ide-ide, memprediksi kejadian yang akan terjadi, dan melakukan proses berpikir ilmiah, yaitu mengemukakan hipotesis dan menentukan cara untuk membuktikan kebenaran hipotesis. Pemerolehan bahasa (language acquisition) adalah peoses-proses yang berlaku di dalam otak seorang anak ketika memperoleh bahasa ibunya. Proses-proses ketika anak sedang memperoleh bahasa ibunya terdiri dari dua aspek yaitu: 1. aspek performance yang terdiri dari aspek-aspek pemahaman dan pelahiran. 2. aspek kompetensi. Kedua jenis proses ini berlainan. Proses-proses pemahaman melibatkan kemampuan mengamati atau kemampuan mempersepsi kalimat-kalimat yang didengar sedangkan proses pelahiran melibatkan kemampuan melahirkan atau seorang anak akan menjadi kemampuan linguistiknya.kemampuan ini terdiri dari tiga kemampuan yaitu: kemampuan pemeroleh fonologi, semantik dan kalimat. Tiga komponen ini dieroleh anak secara serentak dan bersamaan. Pembelajaran bahasa menyangkut proses-proses yang berlaku pada masa seseorang sedang mempelajari bahasa baru setelah ia selesai memperoleh bahasa ibunya. Dengan kata lain pemerolehan bahasa melibatkan bahasa pertama sedangkan pembelajaran bahasa melibatkan bahasa kedua atau bahasa asing. B. PEMEROLEHAN BAHASA ANAK 1. HAKIKAT PEMEROLEHAN BAHASA ANAK Pemerolehan bahasa anak melibatkan dua keterampilan, yaitu kemampuan untuk menghasilkan tuturan secara spontan dan kemampuan memahami tuturan orang lain. Jika dikaitkan dengan hal itu maka yang dimaksud dengan pemerolehan bahasa adalah proses pemilikan kemampuan berbahasa, baik berupa pemahaman ataupun pengungkapan, secara alami, tanpa melalui kegiatan pembelajaran formal (Tarigan dkk. , 1998 dalam Faisal dkk, 2009:2-3). Selain pendapat tersebut Kiparsky dalam Tarigan (1988) dalam Faisal dkk (2009:2-3) mengatakan bahwa pemerolehan bahasa adalah suatu proses yang digunakan oleh anak-anak untuk menyesuaikan serangkaian hipotesis dengan ucapan orang tua sampai dapat memilih kaidah tata bahasa yang paling baik dan paling sederhana dari bahasa persangkutan. Dengan demikian, proses pemerolehan adalah proses bawah sadar. Penguasaan bahasa tidak disadari dan tidak dipengaruhi oleh pengajaran yang secara eksplisit tentang system kaidah yang ada didalam bahasa kedua. Berbeda dengan proses pembelajaran, adalah proses yang dilakukan secara sengaja atau secara sadra dilakukan oleh pembelajar di dalam menguasai bahasa. Adapun karakteristik pemerolehan bahasa menurut Tarigan dkk (1998) dalam Faisal dkk (2009:2-4) adalah : a. Berlangsung dalam situasi formal, anak-anak belajar bahasa tanpa beban dan di luar sekolah; b. Pemilikan bahasa tidak melalui pembelajaran formal dilembaga-lembaga pendidikan seperti sekolah atau kursus; c. Dilakukan tanpa sadar atau spontan; dan d. Dialami langsung oleh anak dan terjadi dalam konteks berbahasa yang bermakna bagi anak. a. Pemerolehan Bahasa Pertama Gracia (dalam Krisanjaya, 1998) dalam Resmini Novi, 2006 mengatakan bahwa pemerolehan bahasa anak dapat dikatakan mempunyai cirri berkesinambungan, memiliki suatu rangkaian kesatuan, yang bergerak dari ucapan satu kata sederhana menuju gabungan kata yang lebih rumit (sintaksis). Ada dua pandangan mengenai pemerolehan bahasa (McGraw dalam Krisanjaya, 1988) dalam Resmini Novi, 2006. Pertama pemerolehan bahasa mempunyai permulaan mendadak atau tiba-tiba. Kebebasan berbahasa dimulai sekitar satu tahun ketika anak-anak menggunakan kata-kata lepas atau terpisah dari symbol pada kebahasaan untuk mencapai aneka tujuan social mereka. Pandangan kedua menyatakan bahwa pandangan bahasa memliki suatu permulaan yang gradual yang muncul dari prestasi-prestasi motorik, social dan kemampuan kognitif pralinguistik. Strategi Pemerolehan Bahasa Anak-anak dalam proses pemerolehan bahasa pada umumnya menggunakan 4 strategi. Strategi pertama adalah meniru/imitasi. Berbagai penelitian menemukan berbagai jenis peniruan atau imitasi, seperti:imitasi spontan, imitasi perolehan, imitasi segera, imitasi lambat, dan imitasi perluasan. Strategi kedua dalam pemerolehan bahasa adalah strtegi produktivitas. Produktivitas berarti keefektifan dan keefisienan dalam pemerolehan bahasa melalui sarana komunikasi linguistic dan non linguistic (mimic, gerak, isyarat, suara dan sebagainya.) Strategi ketiga adalah strategi umpan balik, yaitu umpan balik antara strategi produksi ujaran (ucapan) dengan response. Strategi keempat adalah apa yang disebut dengan prinsip operasi. Dalam strategi ini anak dikenalkan dengan pedoman, ”gunakan beberapa prinsip operasi umum untuk memikirkan serta menggunakan bahasa” (hindarkan kekecualian, prinsip khusus: seperti kata: berajar menjadi belajar). b. Pemerolehan Bahasa Kedua Pemerolehan bahasa kedua dimaknai saat seseorang memperoleh bahasa lain setelah terlebih dahulu ia menguasai sampai batas tertentu bahasa pertamanya (bahasa ibu). Ada juga yang menyatakan istilah bahasa kedua adalah bahasa asing. Kusus bagi kondisi Indonesia, istilah bahasa pertama atau bahasa ibu, bahasa asli atau bahasa utama, berwujud dalam bahasa daerah tertentu sedangkan bahasa kedua berwujud dalam bahasa Indonesia dan bahasa asing. Terdapat perbedaan dalam proses belajar bahasa pertama dan bahasa kedua. Proses belajar bahasa pertama memiliki ciri-ciri: • Belajar tidak disengaja • Langsung sejak lahir • Lingkungan keluarga sangat menentukan • Motivasi ada karena kebutuhan • Banyak waktu untuk mencoba bahasa • Banyak kesempatan untuk berkomunikasi. Pada proses belajar bahasa kedua terdapat ciri-ciri: • Belajar bahasa disengaja • Berlangsung setelah pelajar berada di sekolah • Lingkungan sekolah sangat menentukan • Motivasi pelajar untuk mempelajarinya tidak sekuat mempelajari bahasa pertama. Motivasi itu misalnya ingin memperoleh nilai baik pada waktu ulangan atau ujian • Waktu belajar terbatas • Pelajar tidak mempunyai banyak waktu untuk mempraktikkan bahasa yang dipelajari • Bahasa pertama mempengaruhi proses belajar bahasa kedua • Umur kritis mempelajari bahasa kedua kadang-kadang telah lewat sehingga proses belajar bahasa kedua berlangsung lama • Disediakan alat bantu belajar • Ada orang yang mengkomunikasikannya, yaitu guru dan sekolah. DAFTAR PUSTAKA Resmini, Novi,dkk. 2006. Kapita Selekta Bahasa Indonesia. Bandung: UPI Press. Darmiyat dan Budiasih. (1996). Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud. Diakses dari .http://bahauddin amyasi.blogspot.com/2008/11/perkembangan-bahasa-anak.html/11/09/09/13.32/ Diakses dari. http://kuliahpsikologi.dekrizky.com/psikologi-perkembangan-kognisi-dan-bahasa/11/09/09/13.33/ Diakses dari. http://massofa.wordpress.com/2008/01/28/pemerolehan-bahasa-pertama-dan-bahasa-kedua/11/09/09/14.01/ Diakses dari. http://nahulinguistik.wordpress.com/2009/04/14/pemerolehan-bahasa-pertama/10/09/09/17.05/ Diaksesdari.http://pustaka.ut.ac.id/puslata/online.php?menu=bmpshort_detail2&ID=265/10/09/09/16.15/ Diakses dari. http://toyo-utoy.blogspot.com/2009/05/kognitif-anak-usia-dini.html/10/09/09/16.02/ Faisal dkk. (2009). Kajian Bahasa Indonesia SD. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud. BAB II KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI KELAS RENDAH A. SRUKTUR KURIKULUM DAN STANDAR KOMPETENSI MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA Secara garis besar Struktur kurikulum berisi : 1. Sejumlah mata pelajaran 2. Kegiatan belajar pembiasaan 3. Alokasi waktu Mata pelajaran merupakan seperangkat kompetensi dasar yang dibakukan dan substansi pelajaran mata pelajaran tertentu per satuan pendidkan dan per kelas selama masa persekolahan. Mata pelajaran memuat sejumlah kompetensi dasar yang harus dicapai oleh siswa per kelas dan per satuan pendidikan sesuai dengan tingkatan pencapian hasil belajarnya. Mata pelajaran mengutamakan kegiatan instruksional yang berjadwal dan berstruktur. Yang dimaksud kegiatan belajar pembiasaan yaitu kegiatan yang mengutamakan pembentukan dan pengendalian yang diwujudkan dalam kegiatan rutin, spontan, dan pengenalan unsur-unsur penting kehidupan masyarakat. Alokasi waktu menunjukan satuan waktu yang digunakan untuk tatap muka. Kompetensi merupakan pengetahuan, ketrampilan, sikap dan nilai-nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Kompetensi dapat dikenali melalui hasil belajar dan indikatornya yang dapat diukur dan diamati. Kompetensi dapat dicapai melalui pengalaman belajar yang dikaitkan dengan bahan kajian dan bahan pelajaran secara kontekstual. Kompetensi dikembangkan sejak taman kanak-kanak, kelas I SD sampai kelas XII yang menggambarkan satu rangkaian kemampuan yang bertahap, berkelanjutan, dan kensisten seiring dengan perkembangan psikologis peserta didik. Ruang lingkup standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia SD dan MI terdiri dari aspek : 1. Mendengarkan; seperti mendengarkan berita, petunjuk, pengumuman, perintah, bunyi atau suara, bunyi bahasa, lagu, pesan, penjelasan, laporan, ceramah, khotbah, pidato, pembicara narasumber, dialog atau percakapan, pengumuman, serta perintah yang didengar dengan memberikan respon secara tepat serta mengapresiasi dan berekpresi sastra melalui kegiatan mendengarkan hasil-hasil sastra. 2. Berbicara; seperti mengungkapkan gagasan dan perasaan; menyampaikan sambutan, dialog, pesan, pengalaman, suatu proses, menceritakan diri sendiri, teman, keluarga, masyarakat, benda, tanaman, binatang, pengalaman, gambar tunggal, gambar seri, kagiatan sehari-hari, peristiwa, tokoh kesukaan/ketidaksukaan, kegemaran, peraturan, tata tertib, petunjuk, dan laporan serta mengapresiasi dan berekpresi sastra melalui kegiatan melisankan hasil-hasil sastra. 3. Membaca; seperti membaca huruf, suku kata, kalimat, paragraph, berbagai teks bacaan, denah; petunjuk, tata tertib, pengunguman, kamus, enslikopedia serta mengapresiasi dan berekpresi sastra melalui kegiatan membaca hasil-hasil sastra. 4. Menulis; seperti menulis karangan naratif dan nonnaratif dengan tulisan rapi dan jelas dengan memperlihatkan tujuan dan ragam pembaca, pemakaian ejaan dan tanda baca, dan kosakata yang tepat dengan menggunakan kalimat majemuk dan kalimat tunggal serta mengapresiasi dan berekspresi sastra melalui kegiatan menulis hasil karya sastra berupa cerita dan puisi. B. HAKIKAT PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI KELAS RENDAH 1. Teori Pembelajaran di Kelas Rendah Model pembelajaran yang diasumsikan cocok bagi murid kelas rendah (kelas I-II SD) adalah model-model pembelajaran yang lebih didasarkan pada interaksi sosial dan personal (Joyce dan Weil, 1992 dalam Hartati dkk, 2006:81) atau model-model interaksi dan transaksi (Brady, 1985 dalam Hartati dkk, 2006:81) daripada model-model yang didasarkan pada “behavioral” atau “ekspository”. Dari model-model pembelajaran tersebut dapat diidentifikasi berbagai prinsip pembelajaran sebagai berikut : 1. Libatkan Murid Supaya Aktif Belajar 2. Dasar pada perbedaan individual 3. Kaitkan antara teori dan praktik 4. Kembangkan komunikasi dan kerjasama dalam belajar 5. Beranikan anak dalam pengambilan resiko dan belajar dari kesalahan 6. Belajar sambil berbuat dan bermain 7. Sesuaikan pembelajaran dengan taraf perkembangan kognitif yang masih pada taraf operasi kongkrit.  Model Pembelajaran di Kelas Rendah a) Pertemuan kelompok (Partner-partner dalam belajar) Langkah-langkah pembelajaran 1. Murid menghadapi situasi “puzzling” (baik direncanakan atau tidak direncanakan) yang diidentifikasi oleh guru sebagai objek study. 2. Murid mengeksplorasi reaksi terhadap situasi itu 3. Merumuskan tugas dan mengorganisasikan pelaksanaannya 4. Mempelajari secara independent dan kelompok 5. Menganalisis kemajuan dan proses 6. Mengulangi lagi kegiatan 1-5 jika hasil analisis belum memadai b) Role Playing (Bermain Peran) Langkah-langkah 1. Mengidentifikasi atau memperkenalkan masalah, dam membuat masalah jadi jelas. Menginterpretasi latar belakang masalah dan isu-isu, menjelaskan prosedur pelaksanaan role playing. 2. Memilih partisipan Menganalisis peran-peran dan memilih bermain peran 3. Menetapkan tahapan Menetapkan alur laku (action), menyatakan kembali peran-peran, memasuki situasi masalah 4. Menyiapkan pengamat Menetapkan apa yang harus diamati, memberi tugas pengamatan pada murid. 5. Pelaksanaan Melaksanakan role playing, menjaga keberlangsungan pelaksanaannya dan menghentikannya. 6 Diskusi dan evaluasi Menelaah kembali pelaksanaan role playing, mendiskusikan fokus utama role playing, menyiapkan pelaksanaan ulang role playing 7. Pelaksanaan ulang Berganti peran (yang berlawanan) misalnya semula berperan sebagai anak sekarang berperan sebagai ibu. 8. Diskusi dan evaluasi (lihat langkah keenam) 9. Berbagi pengalaman dan generalisasi Menghubungkan masalah yang diperankan itu dengan pengalaman nyata dan masalah-masalah yang ada pada saat ini, kemudian menyimpulkan prinsip-prinsip umum tingkah laku. 1. Peranan Guru dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas Rendah Guru merupakan kunci sentral untuk keberhasilan suatu pengajaran. Terlebih lagi apabila lingkungan tempat pembelajaran kurang menguntungkan, peran guru sangat berarti bagi siswa karena penentu keberhasilan suatu pengajaran sangat dipengaruhi oleh lingkungan, orang tua dan sekolah. Kedudukan guru sebagai komponen pengajaran di samping siswa, kurikulum, metode, alat pelajaran, dan alat evaluasi merupakan penentu keberhasilan. Dengan demikian guru berperan sebagai pembimbing, model, innovator, adminisator dan evaluator. Terlebih lagi dalam pelajaran Bahasa Indonesia. 2. Pendekatan Mengajar Beberapa pendekatan yang masih dominant digunakan dalam pembelajaran bahasa, antara lain : pendekatan komunikatif, pendekatan CBSA, Pendekatan intregatif dan tematik. a) Pendekatan Komunikatif Yang dimaksudkan dengan komunikatif adalah pembelajaran bahasa yang mengutamakan kemampuan penggunaan bahasa dala konteks komunikasi. Prinsip-prinsip pengajaran Bahasa Indonesia dengan pendekatan komunikatif sebagai berikut : a. Pragmatik, struktur dan kosakata tidak disajikan sebagai pokok bahasan yang berdiri sendiri karena kosakata, pragmatic dan struktur telah tercakup dalam pengajaran keempat keterampilan pembelajaran bahasa tersebut. b. Pembelajaran bahasa untuk melatih kepekaan siswa maksudnya, siswa tidak hanya diinformasikan secara lugas atau langsung tetapi juga harus mampu memahami imformasi yang disampaikan secara tersirat. c. Pembelajaran bahasa selain untuk meningkatkan keterampilan berbahasa, bernalar, dan memperluas wawasan juga mengembangkan kemampuan menghayati keindahan karya sastra, misal membaca puisi, menyanyi, bercerita dan bermain drama. d. Pembelajaran bahasa juga diarahkan untuk membekali siswa menguasai bahasa lisan dan tulis, misalnya mengungkapkan informasi secara lisan maupun tulis. b) Pendekatan Cara Siswa Belajar Aktif (CBSA) Yang dimaksud dengan CBSA adalah cara belajara yang mengutamakan kadar keterlibatan siswa secara aktif baik fisik maupun mental. Yang perlu dipahami dalam melaksanakan CBSA antara lain adalah anak dapat belajar secara kelompok ataupun individual. c) Pendekatan Integratif dan Tematik Yang dimaksud dengan pendekatan intregatif adalah pendekatan pembelajaran bahasa yang disajikan secara utuh tidak terpotong-potong dan bersumber pada satu tema. Maksudnya keempat aspek pengajaran bahasa yaitu mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis serta kebahasaan yang disampaikan kepada siswa dipadukan secara intregative, misalnya dengan menggunakan tema “Kesehatan”, keempat aspek kebahasaan bersumber pada kesatuan tema kesehatan. C. MATERI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA Berdasarkan kurikulum 2004 (KBK) materi pembelajarn Bahasa Indonesia di kelas rendah terdiri dari : keterampilan berbahasa (mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis), kebahasaan (tatabunyi, tatabentuk, tatamakna dan tatakalimat), sastra (puisi, prosa, dan drama). Secara rinci materi pembelajaran diklasifikasikan dibawah ini : Materi Pembelajaran Kelas I Sekolah Dasar Mendengarkan Berbicara Membaca Menulis  Pengucapan bunyi atau suara tertentu di sekitar  Pelafalan bunyi bahasa  Tanggapan sesama nonverbal terhadap informasi yang didengarkan  Teks yang terdiri atas berbagai kalimat perintah (kalimat imperative)  Dekripsi tentang benda-benda disekitar  Kalimat berita (kalimat deklaratif) Dongeng  Kalimat sederhana untuk memperkenalkan diri  Kalimat sapaan  Gambar dan gambar seri  Nama warna, nama&fungsi anggota tubuh & benda-benda disekitar  Cerita pengalaman yang berkaitan dengan perjalanan dari rumah ke sekolah  Deskripsi benda-benda disekitar, kalimat berita (deklaratif)  Informasi tentang diri sendiri (minat, keinginan, cita-cita.dsb.  Kalimat yang mengucapkan kesukaan atau ketidaksukaan  Gambar tunggal  Gambar seri  Gambar dalam buku  Suku kata  Kata  Label  Angka arab  Kalimat sederhana  Teks sastra dan nonsastra  Paragraph pendek berisi kalimat sederhana (5-8 kalimat)  Garis putus-putus  Garis lurus  Garis lengkung  Lingkaran  Bentuk huruf  Huruf  Kata  Kalimat  Angka arab  Kalimat atau beberapa kalimat  Penulisan huruf, kata dan kalimat  Label nama  Gambar sederhana  Pengisian kalimat rumpang berdasarkan gambar  Identitas diri, nama, alamat  Kalimat sederhana dengan huruf sambung (3-5 kalimat) DAFTAR PUSTAKA Darmiyat dan Budiasih. (1996). Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud. Diakses dari .http://bahauddin amyasi.blogspot.com/2008/11/perkembangan-bahasa-anak.html/11/09/09/13.32/ Diakses dari. http://kuliahpsikologi.dekrizky.com/psikologi-perkembangan-kognisi-dan-bahasa/11/09/09/13.33/ Diakses dari. http://massofa.wordpress.com/2008/01/28/pemerolehan-bahasa-pertama-dan-bahasa-kedua/11/09/09/14.01/ Diakses dari. http://nahulinguistik.wordpress.com/2009/04/14/pemerolehan-bahasa-pertama/10/09/09/17.05/ Diaksesdari.http://pustaka.ut.ac.id/puslata/online.php?menu=bmpshort_detail2&ID=265/10/09/09/16.15/ Diakses dari. http://toyo-utoy.blogspot.com/2009/05/kognitif-anak-usia-dini.html/10/09/09/16.02/ Faisal dkk. (2009). Kajian Bahasa Indonesia SD. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud. Resmini, Novi,dkk. 2006. Kapita Selekta Bahasa Indonesia. Bandung: UPI Press BAB III A. PENDEKATAN PEMBELAJARAN BAHASA . Anthoni (1963:63-70) dalam Tarigan dkk. (2006:3.7) pendekatan adalah seperangkat asumsi korelatif yang menangani hakikat bahasa, pengajaran bahasa, dan pembelajaran bahasa. Pendekatan bersifat aksiomatik. Metode merupakan rencana keseluruhan penyajian bahan bahasa secara rapi, tertib, yang tidak ada bagian-bagiannya yang berkontradiksi dan kesemuanya didasarkan pada pendekatan terpilih. Metode bersifat prosedural. 1. Gambar Edward M. Anthoni Teknik adalah cara kongkret yang dipakai saat proses pembelajaran berlangsung. Guru dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama. Satu metode dapat diaplikasikan melalui berbagai teknik pembelajaran. Bungkus dari penerapan pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran tersebut dinamakan model pembelajaran. (Dr.Suyatno : 2008 http://hoesnaeni.wordpress.com/2009/01/24/beda-strategi-model-pendekatan-metode-dan-teknik-pembelajaran/ ) 2. Gambar Kaitan metode, pendekatan, desain, dan prosedur. Richards dan Rodgers (1986) dalam Tarigan dkk. (2006:3.7) menyempur-nakan pendapat Anthoni tersebut mereka menambahkan peranan guru, siswa, bahan, tujuan, silabus dan tipe kegiatan pembelajaran dan pengajaran pada segi metode, sehingga muncul istilah desain atau rancang-bangun. Istilah teknik diganti dengan istilah prosedur. Kaitan antara metode, pendekatan, desain dan prosedur dapat digambar seperti gambar diatas. Pendekatan adalah asumsi bersifat aksiomatik mengenai hakikat bahasa, pengajaran bahasa, dan belajar bahasa yang digunakan sebagai landasan dalam merancang, melaksanakan proses belajar mengajar bahasa. Tarigan dkk. (2006) mengatakan pendekatan yang digunakan dalam pengajaran bahasa Indonesia adalah pendekatan tujuan, pendekatan komunikasi, pendekatan pragmatik, pendekatan CBSA, pendekatan ketrampilan proses, pendekatan spiral dan pendekatan lintas materi. Menurut Tatat Hartati dkk. pendekatan merupakan seperangkat asumsi yang aksiomatik tentang hakikat bahasa, asumsi tentang bahasa bermacam-macam, antara lain asumsi menganggap bahasa sebagai kebiasaan, bahasa sebagai sistem komunikasi dan ada pula yang menganggap bahasa sebagai seperangkat peraturan dalam kaidah. Di bawah ini akan dibahas beberapa pendekatan yang selayaknya dipahami oleh guru-guru sekolah dasar, baik guru kelas maupun guru bidang studi. 1. Pendekatan Behaviorisme Pendekatan ini berpandangan bahwa proses penguasaan kemampuan anak sebenarnya dikendalikan dari luar sebagai akibat dari berbagai rangsangan yang diterapkan lingkungan kepada anak. 2. Pendekatan Nativisme Pendekatan ini berpandangan bahwa anak sudah dibekali secara ilmiah dengan apa yang disebut LAD (language acquisition device). 3. Pendekatan Kognitif Bahasa dalam pandangan kognitif distrukturlisasi dan dikendalikan oleh nalar. Dengan demikian kognitif sangat berpengaruh pada perkembangn bahasa. 4. Pendekatan Interaksi Social Inti pembelajaran dari interaksi sosial adalah pengaruh lingkungan dari proses interaksi, oleh karena itu siswa dituntut untuk mencari pertanyaan atau mencari masalah sendiri dan berusaha menyelesaikan masalah sendiri. Hal ini akan meningkatkan kreativitas dan berfikir kritis mereka. 5. Pendekatan Tujuan Pendekatan ini sering dikaitkan dengan cara belajar tuntas artinya jika suatu proses pembelajaran tuntas berarti kegiatan belajar mengajar dianggap berhasil dengan ketentuan sedikit-sediktnya 85% dari jumlah siswa yang mengikuti pelajaran itu minimal menguasi 75% dari bahan ajar yang diberikan guru. 6. Pendekatan Struktural Pendekatan ini berpandangan bahwa bahasa adalah data yang didengar atau ditulis untuk dianalisis sesuai dengan tata bahasa. 7. Pendekatan Komunikatif Pendekatan ini didasarkan pada pandangan bahwa bahasa adalah sarana komunikasi, karena itu tujuan utama pengajaran bahasa adalah meningkatkan keterampilan berbahasa siswa. 8. Pendekatan Pragmatik Pendekatan ini mengutamakan keterampilan berbahasa dengan memperhatikan faktor-faktor penentu berbahasa, seperti: pemeran serta, tujuan, situasi, konteks juga aspek pengembangan seperti: moral, sosial, dan intelektual. 9. Pendekatan Whole Language Pendekatan ini berfungsi untuk mengembangkan dan mengajarkan bahasa yang dilaksanakan secara menyeluruh yang meliputi: a. mendengarkan b. berbicara b. membaca c. menulis Disamping itu pendekatan ini juga mementingkan multimedia, lingkungan dan pengalaman belajar anak. 10. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching And Learning Atau CTL) Pendekatan ini merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dalam hal ini siswa perlu mengerti apa makna belajar, manfaatnya, serta bagaimana mencapainya. 11. Pendekatan Terpadu Pendekatan ini dalam bahasa hampir sama dengan pendekatan “whole language”, yang pada dasarnya pembelajaran bahasa senantiasa harus terpadu, dan tak terpisahkan antara keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca dan menulis). Disamping itu untuk kelas-kelas rendah pendekatan ini menggunakan lintas bidang studi, yang artinya pembelajaran bahasa Indonesia dapat disatukan dengan mata pelajaran lain. 12. Pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) Pendekatan ini merupakan suatu system pembelajaran yang menekankan kadar keterlibatan siswa secara fisik, mental, intelektual dan emosional untuk mencapai tujuan pembelajaran. Misal dalam pembelajaran membaca permulaan dikelas satu, dapat dilakukan secara individual, kelompok dan klasikal. Kegiatan secara individual dapat membaca nyaring (bagi siswa yang sudah lancar membaca). 13. Pendekatan Keterampilan Proses Keterampilan proses dalam mata pelajaran bahasa Indonesia meliputi kegiatan mengamati, menggolongkan, menafsirkan, menerapkan, dan mengkomunikasikan. B. METODE DAN STRATEGI PEMBELAJARAN BAHASA Setelah para guru memahami pendekatan-pendekatan dalam program pengajaran bahasa, selanjutnya guru menentukan metode-metode apa yang akan diterapkannya dalam proses pembelajaran. Metode adalah rencana penyajian bahan secara menyeluruh dengan urutan yang sistematis berdasarkan pendekatan atau approach tertentu dalam Tatat Hartati dkk. (2006). Sedangkan Tarigan dkk. (2006) perbedaan pandangan mengenai teori belajar juga mewarnai perbedaan metode. Teori belajar merupakan landasan suatu metode yang berorientasi dua hal. Pertama, proses kognitif yakni proses yang terjadi dalam belajar suatu bahasa. Kedua, kondisi belajar yakni kondisi-kondisi yang mendukung berlangsungnya proses belajar bahasa berjalan baik. Metode pembentukan kebiasaan (habit formation) adalah metode yang berorientasi pada proses. Metode alamiah (natural method) berorientasi pada situasi di mana belajar itu terjadi dan kondisi belajar. Metode berfungsi sebagai jembatan penghubung antara teori dan praktik, antara pendekatan dan teknik. berikut ini adalah metode yang digunakan dalam Kurikulum 2004 maka langkah dilakukan setelah guru menetapkan kompetensi dasar beserta indikato -indikatornya. Beberapa metode ini digunakan secara terpisah maupun digabungkan dengan metode lain atau beberapa metode dalam pelaksanaannya. 1. Metode Langsung Metode ini menerapkan secara langsung semua aspek dalam bahasa yang diajarkan. Misalnya, dalam suatu pembelajaran pelajaran bahasa Indonesia didaerah bahasa pengantar dikelas adalah bahasa Indonesia tanpa diselingi bahasa daerah/bahasa ibu. 2. Metode Alamiah Metode ini berprinsip bahwa mengajar bahasa baru (seperti bahasa kedua) harus sesuia dengan kebiasaan belajar bahasa yang sesungguhnya seperti yang dilalui anak-anak ketika belajar bahasa ibunya.proses alamiah sangat berpengaruh pada metode ini. 3. Metode Tatabahasa Metode ini memusatkan pada pembelajaran vokabulerr (kosakata), kelebihan metode ini terletak pada kesederhanaannya dan sangat mudah dalam pelaksanaannya. 4. Metode Terjemahan Metode terjemahan (the translation method) adalah metode yang lazim digunakan dalam pengajaran bahasa asing, termasuk alam pengajaran bahasa Indonesia yang umumnya merupakan bahasa kedua setelah bahasa penggunaan bahasa ibu/daerah. 5. Metode Pembatasan Bahasa Metode ini menekankan pada pembatasan dan penggradasian kosakata dan struktur bahasa yang akan diajarkan, kata-kata dan pola kalimat yang tinggi pemakaiannya dimasyarakat diambil sebagai sumber bacaan dan latihan penggunaan bahasa. 6. Metode Linguistik Prinsip metode ini adalah pendekatan ilmiah karena yang menjadi landasan pembelajaran adalah hasil dari penelitian para linguis (ahli bahasa). Urutan penyajian bahan pembelajaran disusun sesuai tahap-tahap kesukaran yang mungkin dialami siswa. Dengan demikian pada metode ini tidak dilarang menggunakan bahasa ibu murid, karena bahasa ibu murid akan memperkuat pemahaman bahasa tersebut. 7. Metode SAS Metode SAS (Struktural Analitik Sintetik) bersumber pada ilmu jiwa yang berpandangan bahwa pengamatan dan penglihatan pertama manusia adalah global atau bersifat menyeluruh. Dengan demikian segala sesuatu yang diperkenalkan pada murid haruslah mulai ditunjukan dan diperkenalkan struktur totalitasnya atau secara global. 8. Metode Bibahasa Metode ini hampir sama dengan metode linguistik, bahasa ibu murid digunakan untuk menerangkan perbedaan–perbedaan fonetik, kosakata, struktur kalimat dan tata bahasa kedua bahasa itu. 9. Metode Unit Metode ini berdasarkan pada 5 tahap, yaitu: a. mempersiapkan murid untuk menerima pengajaran b. penyajian bahan c. bimbingan melalui proses induksi d. generalisai dan penggunaannya di sekolah dasar Perencanaan atau disebut desain yang disusun di depan kelas. Ada tiga tahapan kegiatan teknik di depan kelas. Pertama, kegiatan penyajian dan penjelasan bahan pembelajaran. Kedua, kegiatan latihan yang dilaksanakan oleh siswa dalam rangka memahami bahan pembelajaran. Ketiga, kegiatan umpan balik untuk menentukan arah kegiatan belajar berikutnya sekaligus merupakan pengulangan atau lanjutan kegiatan belajar berikutnya. Setelah memahami metode pembelajaran bahasa guru juga harus mengetahui teknik-teknik atau strategi pengajaran yang lazim digunakan. Teknik bersifat prosedural. Teknik yang baik dijabarkan metode dan serasi dengan pendekatan. Berikut sejumlah teknik pengajaran bahasa Indonesia yang biasa dipraktikan guru bahasa Indonesia. 1. Teknik Ceramah Pelaksanaan teknik ceramah dikelas rendah dapat berbentuk cerita kenyataan, dongeng atau informasi tentang ilmu pengetahuan. 2. Teknik Tanya Jawab Teknik tanya jawab dapat diterapkan pada latihan keterampialn menyimak, membaca, berbicara dan menulis. Selain guru bertanya pada murid, murid juga dapat bertanya pada guru. 3. Teknik Diskusi Kelompok Teknik ini dapat dilakukan di kelas rendah dengan bimbingan guru. Peran guru terutama dalam pemilihan bahan diskusi, pemilihan ketua kelompok dan memotivasi siswa lainnya agar mau berbicara atau bertanya. 4. Teknik Pemberian Tugas Teknik ini bertujuan agar siswa lebih aktif dalam mendalami pelajaran dan memiliki keterampilan tertentu, untuk siswa kelas rendah tugas individual seperti membuat catatan kegiatan harian atau disuruh menghapal puisi atau lagu. 5. Teknik Bermain Peran Teknik ini bertujuan agar siswa menghayati kejadian atau peran seseorang dalam hubungan sosialnya. Dalam bermain peran siswa dapat mencoba menempatkan diri sebagai tokoh atau pribadi tertentu, misal: sebagai guru, sopir, dokter, pedagang, hewan, dan tumbuhan. Setelah itu diharapkan siswa dapat menghargai jasa dan peranan orang lain, alam dalam kehidupannya. 6. Teknik Karya Wisata Teknik ini dilaksanakan dengan cara membawa langsung siswa kepada obyek yang berkaitan dengan materi pembelajaran. Misalkan : museum, kebun binatang, tempat pameran atau tempat karya wisata lainnya. 7. Teknik Sinektik Strategi pengajaran sinektik merupakan susatu strategi untuk menjadikan suatau masyarakat intelektual yang menyediakan berbagai siswa untuk bertindak kreatif dan menjelajahi gagasan-gagasan baru dalam bidang-bidang ilmu pengetahuan alam, teknologi, bahasa dan seni. C. MODEL PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA MENYELURUH (WHOLE LANGUAGE) DAN MODEL PEMBELAJARAN TERPADU A. MODEL PEMBELAJARAN BAHASA MENYELURUH 1. Teori pembelajaran bahasa menyeluruh Konsep bahasa menyeluruh telah diperkenalkan oleh Jerome Harrte dan Carolyn Burke pada tahun 1977, sesudah itu Doroty Waston menyusul dengan istilah ”Teacher Whole Languge” (TWL) pada tahun 1978 kemudian Ken Goodman memperkenalkan kaidah ini dengan nama ”Whole Language Comperhension Centered Reading Program” pada tahun 1979. Konsep bahasa menyeluruh telah digunakan pada anak usia dini (anak usia pra sekolah dan SD kelas rendah) dalam pengembangan bahasa anak. Kaidah ini ternyata telah berhasil dan membantu anak-anak memahami bahasa secara menyeluruh. Menurut Ferguson (dalam pendidikan bahasa dan sastra di kelas rendah, 2006:119) bahwa kaidah bahasa menyeluruh sangat penting untuk meningkatkan keterampilan mendengar, berbicara, membaca dan menulis diawali dengan pembelajaran perilaku bahasa yang alamiah yaitu bercakap-cakap. Sedangkan menurut Cullinan (dalam pendidikan bahasa dan sastra dikelas rendah, 2006:119) mengidentifikasikan bahwa kaidah ini berpusat pada bacaan atau program gabungan seni bahasa yang bermakna dan berfungsi. Bergeron dalam (pendidikan bahasa dan sastra di kelas rendah, 2006:119) mengidentifikasikan bahasa menyeluruh sebagai suatu konsep terdiri dari 2 unsur pendukung yaitu perkembangan bahasa dan pendekatan pengajaran. 2. Materi pembelajaran Model pembelajaran bahasa menyeluruh, sangat tepat digunaan dalam belajar bahasa indonesia di kelas rendah (I, II), oleh karena itu, sebelum guru merancang pembelajaran, sebaiknya memahami dan menganalisis terlebih dahulu materi pokok bahasa di kelas rendah tersebut. 3. Desain pembelajaran Whole Language adalah suatu pendekatan pembelajaran bahasa yang secara utuh (menyeluruh). Melalui pendekatan ini pembelajaran dilaksanakan secara konstektual, logis, kronologis, dan komunikatif. Dalam pendekatan ini terjadi hubungan interaktif antara 4 ketrampilan berbahasa yaitu mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Rancangan atau desain model pembelajaran sebagai berikut : a. Persiapan : tema, kebahasaan, KD, hasil belajar, indikator, materi pokok, media, organisasi pembelajaran, evaluasi. b. Pembelajaran : diskusi tema, organisasi dan presentasi c. Pembelajaran : presentasi dan evaluasi B. MODEL PEMBELAJARAN TERPADU Salah satu karakteristik pengajaran bahasa Indonesia berdasarkan Kurikulum 2004 adalah keterpaduan. Keterpaduan itu dapat dilihat tujuan, bahan dan kegiatan belajar. Tujuan pengajaran pengajaran bahasa Indonesia adalah meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi Tarigan dkk. (2006). Pembelajaran kebahasaan, penggunaan, pemahaman, dan apresiasi melalui bahasa lisan dan tulisan harus diarahkan untuk menumbuhkan kemampuan berkomunikasi secara baik dan benar. Pembelajaran terpadu merupakan suatu model pembelajaran yang membawa pada kondisi pembelajaran yang relevan dan bermakna untuk anak. Pembalajaran terpadu merupakan media pembelajaran yang secara efektif membantu anak untuk belajar secara terpadu dalam mencari hubungan-hubungan dan keterkaitan antara apa yang telah mereka ketahui dengan hal-hal baru atau informasi baru yang mereka temukan dalam proses belajarnya sehari-hari. Collins dan Dixon (1991:6) dalam (http://sobarnasblog.blogspot.com/2009/04/model-pembelajaran-terpadu-di-sekolah.html) menyatakan tentang pembelajaran terpadu sebagai berikut: integrated learning occurs when an authentic event or exploration of a topic in the driving force in the curriculum. Secara singkat dapat disimpulkan bahwa pada hakikatnya pembelajaran terpadu adalah upaya memadukan berbagai materi belajar yang berkaitan, baik dalam satu disiplin ilmu maupun antar disiplin ilmu dengan kehidupan dan kebutuhan nyata para siswa, sehingga proses belajar anak menjadi sesuatu yang bermakna dan menyenangkan anak. Keterpaduan pembelajaran bahasa indonesia dengan mata pelajaran lainnya dapat berlangsung dalam beberapa bentuk : a. Model keterhubungan b. Model jaring laba-laba c. Model keterpaduan DAFTAR PUSTAKA Darmiyati dan Budiasih. (1996). Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Jakarta : Dirjen Dikti Depdikbud. Diakses dari http://hoesnaeni.wordpress.com/2009/01/24/beda-strategi-model-pendekatan-metode-dan-teknik-pembelajaran/06/10/09/ 14.12 Diakses dari http://garduguru.blogspot.com/2008/03/beda-strategi-model-metode-dan-teknik.html/06/10/09/17:52:00 Diakses dari http://sobarnasblog.blogspot.com/2009/04/model-pembelajaran-terpadu-di-sekolah.html)/060/10/09/ Tatat Hartati, dkk. (2006). Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Bandung : UPI PRESS Tarigan Djago, dkk. (2006). Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Jakarta: Universitas Terbuka

Rabu, 17 Februari 2010

KONSEP PENDIDIKAN IPS DAN KARAKTERISTIK PENDIDIKAN IPS DI SD


KONSEP PENDIDIKAN IPS DAN KARAKTERISTIK PENDIDIKAN IPS DI SD

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Mempelajari Konsep dasar IPS berisi tentang konsep, hakikat, dan karakteristik pendidikan IPS SD. Dengan mempelajari materi Konsep dasar IPS ini, diharapkan dapat menjelaskan konsep-konsep IPS yang berpengaruh terhadap kehidupan masa kini dan masa yang akan datang secara kritis dan kreatif. Pembahasan materi ini menerapkan pendekatan antar disiplin yang mengintegrasikan ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Adapun media yang digunakan adalah bahan ajar cetak dan non cetak (web).
Sebagai calon guru SD hendaknya menguasai materi IPS sebagai program pendidikan. Untuk membantu menguasai materi tersebut maka dalam Konsep Pendidikan IPS, disajikan pembahasan hal-hal pokok dan latihan sebagai berikut :
1. konsep pendidikan IPS
2. hakikat pendidikan IPS
3. karakteristik pendidikan IPS di SD

B. TUJUAN
Setelah mempelajari materi Konsep Pendidikan IPS, diharapkan dapat menjelaskan tentang :
1. Pengertian IPS
2. Sejarah IPS di Indonesia
3. Rasional mempelajari IPS di SD
4. Hakikat pengajaran IPS
5. Tujuan pembelajaran IPS di SD
6. Karakteristik pembelajaran IPS di SD

C. RUMUSAN MASALAH
Adapun masalah-masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah :
1. Bagaimana pengertian IPS dan konsep Pendidikan IPS?
2. Bagaimana sejarah perkembangan IPS di Indonesia?
3. Apakah hakikat pendidikan atau pengajaran IPS?
4. Apa tujuan dari pembelajaran IPS di SD?
5. Apa saja Karakteristik pembelajaran IPS di SD?

BAB II
KONSEP PENDIDIKAN IPS
A. Pengertian IPS
IPS merupakan suatu program pendidikan dan bukan sub-disiplin ilmu tersendiri, sehingga tidak akan ditemukan baik dalam nomenklatur filsafat ilmu, disiplin ilmu-ilmu sosial (social science), maupun ilmu pendidikan (Sumantri. 2001:89). Social Scence Education Council (SSEC) dan National Council for Social Studies (NCSS), menyebut IPS sebagai “Social Science Education” dan “Social Studies”. Dengan kata lain, IPS mengikuti cara pandang yang bersifat terpadu dari sejumlah mata pelajaran seperti: geografi, ekonomi, ilmu politik, ilmu hukum, sejarah, antropologi, psikologi, sosiologi, dan sebagainya
Dalam bidang pengetahuan sosial, ada banyak istilah. Istilah tersebut meliputi : Ilmu Sosial (Social Sciences), Studi Sosial (Social Studies) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

1. Ilmu Sosial (Sicial Science)
Achmad Sanusi memberikan batasan tentang Ilmu Sosial (Saidihardjo,1996.h.2) adalah sebagai berikut: “Ilmu Sosial terdiri disiplin-disiplin ilmu pengetahuan sosial yang bertarap akademis dan biasanya dipelajari pada tingkat perguruan tinggi, makin lanjut makin ilmiah”.
Menurut Gross (Kosasih Djahiri,1981.h.1), Ilmu Sosial merupakan disiplin intelektual yang mempelajari manusia sebagai makluk sosial secara ilmiah, memusatkan pada manusia sebagai anggota masyarakat dan pada kelompok atau masyarakat yang ia bentuk.
Nursid Sumaatmadja, menyatakan bahwa Ilmu Sosial adalah cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia baik secara perorangan maupun tingkah laku kelompok. Oleh karena itu Ilmu Sosial adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan mempelajari manusia sebagai anggota masyarakat.
2. Studi Sosial (Social Studies).
Perbeda dengan Ilmu Sosial, Studi Sosial bukan merupakan suatu bidang keilmuan atau disiplin akademis, melainkan lebih merupakan suatu bidang pengkajian tentang gejala dan masalah social. Tentang Studi Sosial ini, Achmad Sanusi (1971:18) memberi penjelasan sebagai berikut : Sudi Sosial tidak selalu bertaraf akademis-universitas, bahkan merupakan bahan-bahan pelajaran bagi siswa sejak pendidikan dasar.

3. Pengetahuan Sosial (IPS)
Harus diakui bahwa ide IPS berasal dari literatur pendidikan Amerika Serikat. Nama asli IPS di Amerika Serikat adalah “Social Studies”. Istilah tersebut pertama kali dipergunakan sebagai nama sebuah komite yaitu “Committee of Social Studies” yang didirikan pada tahun 1913. Tujuan dari pendirian lembaga itu adalah sebagai wadah himpunan tenaga ahli yang berminat pada kurikulum Ilmu-ilmu Sosial di tingkat sekolah dan ahli-ahli Ilmu-ilmu Sosial yang mempunyai minat sama.
Definisi IPS menurut National Council for Social Studies (NCSS), mendifisikan IPS sebagai berikut: social studies is the integrated study of the science and humanities to promote civic competence. Whitin the school program, socisl studies provides coordinated, systematic study drawing upon such disciplines as anthropology, economics, geography, history, law, philosophy, political science, psychology, religion, and sociology, as well as appropriate content from the humanities, mathematics, and natural sciences. The primary purpose of social studies is to help young people develop the ability to make informed and reasoned decisions for the public good as citizen of a culturally diverse, democratic society in an interdependent world.
Pada dasarnya Mulyono Tj. (1980:8) memberi batasan IPS adalah merupakan suatu pendekatan interdsipliner (Inter-disciplinary Approach) dari pelajaran Ilmu-ilmu Sosial. IPS merupakan integrasi dari berbagai cabang Ilmu-ilmu Sosial, seperti sosiologi, antropologi budaya, psikologi sosial, sejarah, geografi, ekonomi, ilmu politik, dan sebagainya. Hal ini lebih ditegaskan lagi oleh Saidiharjo (1996:4) bahwa IPS merupakan hasil kombinasi atau hasil pemfusian atau perpaduan dari sejumlah mata pelajaran seperti: geografi, ekonomi, sejarah, sosiologi, antropologi, politik.

B. Sejarah Pertumbuhan Ilmu Pengetahuan Sosial
Bidang studi IPS yang masuk ke Indonesia adalah berasal dari Amerika Serikat, yang di negara asalnya disebut Social Studies. Pertama kali Social Studies dimasukkan dalam kurikulum sekolah adalah di Rugby (Inggris) pada tahun 1827, atau sekitar setengah abad setelah Revolusi Industri (abad 18), yang ditandai dengan perubahan penggunaan tenaga manusia menjadi tenaga mesin.
Latar belakang dimasukkannya Social studies dalam kurikulum sekolah di Amerika Serikat berbeda dengan di Inggris karena situasi dan kondisi yang menyebabkannya juga berbeda. Penduduk Amerika Serikat terdiri dari berbagai macam ras diantaranya ras Indian yang merupakan penduduk asli, ras kulit putih yang datang dari Eropa dan ras Negro yang didatangkan dari Afrika untuk dipekerjakan di perkebunan-perkebunan negara tersebut.
Pada awalnya penduduk Amerika Serikat yang multi ras itu tidak menimbulkan masalah. Baru setelah berlangsung perang saudara antara utara dan selatan atau yang dikenal dengan Perang Budak yang berlangsung tahun l861-1865 dimana pada saat itu Amerika Serikat siap untuk menjadi kekuatan dunia, mulai terasa adanya kesulitan, karena penduduk yang multi ras tersebut merasa sulit untuk menjadi satu bangsa.
Selain itu juga adanya perbedaan sosial ekonomi yang sangat tajam. Para pakar kemasyarakatan dan pendidikan berusaha keras untuk menjadikan penduduk yang multi ras tersebut menjadi merasa satu bangsa yaitu bangsa Amerika. Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan memasukkan social studies ke dalam kurikulum sekolah di negara bagian Wisconsin pada tahun 1892. Setelah dilakukan penelitian, maka pada awal abad 20, sebuah Komisi Nasional dari The National Education Association memberikan rekomendasi tentang perlunya social studies dimasukkan ke dalam kurikulum semua sekolah dasar dan sekolah menengah Amerika Serikat. Adapun wujud social studies ketika lahir merupakan semacam ramuan dari mata pelajaran sejarah, geografi dan civics.
Di samping sebagai reaksi para pakar Ilmu Sosial terhadap situasi sosial di Inggris dan Amerika Serikat, pemasukan Social Studies ke dalam kurikulum sekolah juga dilatarbelakangi oleh keinginan para pakar pendidikan. Hal ini disebabkan mereka ingin agar setelah meninggalkan sekolah dasar dan menengah, para siswa: (1) menjadi warga negara yang baik, dalam arti mengetahui dan menjalankan hak-hak dan kewajibannya; (2) dapat hidup bermasyarakat secara seimbang, dalam arti memperhatikan kepentingan pribadi dan masyarakat. Untuk mencapai tujuan tersebut, para siswa tidak perlu harus menunggu belajar Ilmu-ilmu Sosial di perguruan tinggi, tetapi sebenarnya mereka sudah mendapat bekal pelajaran IPS di sekolah dasar dan menengah. Pengembangan Pendidikan IPS SD 1 - 9
Pertimbangan lain dimasukkannya social studies ke dalam kurikulum sekolah adalah kemampuan siswa sangat menentukan dalam pemilihan dan pengorganisasian materi IPS. Agar materi pelajaran IPS lebih menarik dan lebih mudah dicerna oleh siswa sekolah dasar dan menengah, bahan-bahannya diambil dari kehidupan nyata di lingkungan masyarakat. Bahan atau materi yang diambil dari pengalaman pribadi, teman-teman sebaya, serta lingkungan alam, dan masyarakat sekitarnya. Hal ini akan lebih mudah dipahami karena mempunyai makna lebih besar bagi para siswa dari pada bahan pengajaran yang abstrak dan rumit dari Ilmu-ilmu Sosial.
Latar belakang dimasukkannya bidang studi IPS ke dalam kurikulum sekolah di Indonesia sangat berbeda dengan di Inggris dan Amerika Serikat. Pertumbuhan IPS di Indonesia tidak terlepas dari situasi kacau, termasuk dalam bidang pendidikan, sebagai akibat pemberontakan G30S/PKI, yang akhirnya dapat ditumpas oleh Pemerintahan Orde Baru. Setelah keadaan tenang pemerintah melancarkan Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita). Pada masa Repelita I (1969-1974) Tim Peneliti Nasional di bidang pendidikan menemukan lima masalah nasional dalam bidang pendidikan. Kelima masalah tersebut antara lain:
1. Kuantitas, berkenaan dengan perluasan dan pemerataan kesempatan belajar.
2. Kualitas, menyangkut peningkatan mutu lulusan
3. Relevansi, berkaitan dengan kesesuaian sistem pendidikan dengan kebutuhan pembangunan.
4. Efektifitas sistem pendidikan dan efisiensi penggunaan sumber daya dan dana.
5. Pembinaan generasi muda dalam rangka menyiapkan tenaga produktif bagi kepentingan pembangunan nasional.
Pada tahun 2004, pemerintah melakukan perubahan kurikulum kembali yangn dikenal dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Dalam kurikulum SD, IPS berganti nama menjadi Pengetahuan Sosial. Pengembangan kurikulum Pengetahuan Sosial merespon secara positif berbagai perkembangan informasi, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan relevansi program pembelajaran Pengetahuan Sosial dengan keadaan dan kebutuhan setempat.

C. Rasional Mempelajari IPS.
Rasionalisasi mempelajari IPS untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah adalah agar siswa dapat:
1. Mensistematisasikan bahan, informasi, dan atau kemampuan yang telah dimiliki tentang manusia dan lingkungannya menjadi lebih bermakna.
2. Lebih peka dan tanggap terhadap berbagai masalah sosial secara rasional dan bertanggung jawab.
3. Mempertinggi rasa toleransi dan persaudaraan di lingkungan sendiri dan antar manusia.
IPS atau disebut Pengetahuan Sosial pada kurikulum 2004, merupakan satu mata pelajaran yang diberikan sejak SD dan MI sampai SMP dan MTs. Untuk jenjang SD dan MI Pengetahuan Sosial memuat materi Pengetahuan Sosial dan Kewarganegaraan.
Pada haikatnya, pengetahuan Sosial sebabagi suatu mata pelajaran yang menjadi wahana dan alat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan, antara lain:
1. Siapa diri saya?
2. Pada masyarakat apa saya berada?
3. Persyaratan-persyaratan apa yang diperlukan diri saya untuk menjadi anggota suatu kelompok masyarakat dan bangsa?
4. Apa artinya menjadi anggota masyarakat bangsa dan dunia?
5. Bagaimanakah kehidupan manusia dan masyarakat berubah dari waktu ke waktu?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut harus dijawab oleh setiap siswa, dan jawabannya telah dirancang dalam Pengetahuan sosial secara sistematis dan komprehensip. Dengan demikian, Pengetahuan Sosial diperlukan bagi keberhasilan siswa dalam kehidupan di masyarakat dan proses menuju kedewasaan.


BAB III
HAKIKAT DAN TUJUAN PENDIDIKAN IPS
Hakikat IPS, adalah telaah tentang manusia dan dunianya. Manusia sebagai makhluk sosial selalu hidup bersama dengan sesamanya. Dengan kemajuan teknologi pula sekarang ini orang dapat berkomunikasi dengan cepat di manapun mereka berada melalui handphone dan internet. Kemajuan Iptek menyebabkan cepatnya komunikasi antara orang yang satu dengan lainnya, antara negara satu dengan negara lainnya. Dengan demikian maka arus informasi akan semakin cepat pula mengalirnya. Oleh karena itu diyakini bahwa “orang yang menguasai informasi itulah yang akan menguasai dunia”.
Suatu tempat atau ruang dipermukaan bumi, secara alamiah dicirikan oleh kondisi alamnya yang meliputi iklim dan cuaca, sumber daya air, ketinggian dari permukaan laut, dan sifat-sifat alamiah lainnya. Jadi bentuk muka bumi seperti daerah pantai, dataran rendah, dataran tinggi, dan daerah pegunungan akan mempengaruhi terhadap pola kehidupan penduduk yang menempatinya. Lebih jelasnya Anda dapat mencermati contoh berikut ini.
• Corak kehidupan masyarakat di tepi pantai utara Jawa yang bentuknya landai dengan laut yang tenang dan tidak begitu tinggi serta arus angin yang tidak begitu kencang, sangat menguntungkan bagi masyarakat untuk mencari ikan. Hal ini disebabkan ikan banyak berkumpul di kawasan laut yang dangkal yang masih tertembus sinar matahari. Oleh karena itu mayoritas masyarakatnya bermata pencaharian sebagai nelayan. Hampir semua pelabuhan-pelabuhan besar di pulau Jawa sebagian besar terletak di pantai utara Jawa.
• Dataran rendah yang meliputi daerah pantai sampai ketinggian 700 meter di atas permukaan laut merupakan kawasan yang cadangan airnya cukup, didukung oleh iklimnya yang cocok, merupakan potensi alam yang cocokuntuk dikembangkan sebagai areal pertanian, misalnya Karawang, Bekasi, Indramayu, Subang dan sebagainya. Dataran tinggi yang beriklim sejuk, dengan cadangan air yang sudah semakin berkurang maka sistem pertanian yang dikembangkan adalah pertanian lahan kering dan holtikultura seperti sayuran, buah-buahan, da tanaman hias.
• Lain dengan daerah pegunungan yang memiliki corak tersendiri. Karena sedikitnya persediaan air tanah, mengakibatkan pemukiman penduduk terpusat di lembah-lembah atau mendekati alur sungai. Hal ini dikarenakan mereka berusaha untuk mendapatkan sumber air yang relatif mudah. Ladang yang mereka usahakan biasanya terletak di lembah pegunungan.
Aspek pengaturan dan kebijakan ini termasuk aspek politik
Marilah kita cermati kembali apa yang sudah kita pelajari di atas. Setelah kita pelajari ternyata kehidupan itu banyak aspeknya, meliputi aspek-aspek:
1. hubungan sosial: semua hal yang berhubungan dengan interaksi manusia tentang proses, faktor-faktor, perkembangan, dan permasalahannya dipelajari dalam ilmu sosiologi
2. ekonomi: berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan manusia, perkembangan, dan permasalahannya dipelajari dalam ilmu ekonomi
3. psikologi: dibahas dalam ilmu psikologi
4. budaya: dipelajari dalam ilmu antropologi
5. sejarah: berhubungan dengan waktu dan perkembangan kehidupan manusia dipelajari dalam ilmu sejarah
6. geografi: hubungan ruang dan tempat yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia dipelajari dalam ilmu geografi
7. politik: berhubungan dengan norma, nilai, dan kepemimpinan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat dipelajari dalam ilmu politik

Tujuan Pendidikan IPS
Berdasarkan pada falsafah negara tersebut, maka telah dirumuskan tujuan pendidikan nasional, yaitu:
membentuk manusia pembangunan yang ber-Pancasila dan untuk membentuk manusia yang sehat jasmani dan rokhaninya, memiliki pengetahuan dan keterampilan, dapat mengembangkan kreativitas dan tanggung jawab, dapat menyuburkan sikap demokrasi dan penuh tenggang rasa, dapat mengembangkan kecerdasan yang tinggi dan disertai budi pekerti yang luhur, mencintai bangsanya, dan mencintai sesama manusia sesuai ketentuan yang termaksud dalam UUD 1945.
Berkaitan dengan tujuan pendidikan di atas, kemudian apa tujuan dari pendidikan IPS yang akan dicapai? Tentu saja tujuan harus dikaitkan dengan kebutuhan dan disesuaikan dengan tantangan-tantangan kehidupan yang akan dihadapi anak. Berkaitaan dengan hal tersebut, kurikulum 2004 untuk tingkat SD menyatakan bahwa, Pengetahuan Sosial (sebutan IPS dalam kurikulum 2004), bertujuan untuk:
1. mengajarkan konsep-konsep dasar sosiologi, geografi, ekonomi, sejarah, dan kewarganegaraan, pedagogis, dan psikologis.
2. mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan sosial
3. membangun komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan
4. meningkatkan kemampuan bekerja sama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, baik secara nasional maupun global.
Sejalan dengan tujuan tersebut tujuan pendidikan IPS menurut (Nursid Sumaatmadja. 2006) adalah “membina anak didik menjadi warga negara yang baik, yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kepedulian social yang berguna bagi dirinya serta bagi masyarakat dan negara” Sedangkan secara rinci Oemar Hamalik merumuskan tujuan pendidikan IPS berorientasi pada tingkah laku para siswa, yaitu : (1) pengetahuan dan pemahaman, (2) sikap hidup belajar, (3) nilai-nilai sosial dan sikap, (4) keterampilan (Oemar hamalik. 1992 : 40-41).
Untuk lebih jelasnya akan dibahas satu persatu.

Pengetahuan dan Pemahaman
Salah satu fungsi pengajaran IPS adalah mentransmisikan pengetahuan dan pemahaman tentang masyarakat berupa fakta-fakta dan ide-ide kepada anak.

Sikap belajar
IPS juga bertujuan untuk mengembangkan sikap belajar yang baik. Artinya dengan belajar IPS anak memiliki kemampuan menyelidiki (inkuiri) untuk menemukan ide-ide, konsep-konsep baru sehingga mereka mampu melakukan perspektif untuk masa yang akan datang.
Nilai-nilai sosial dan sikap
Anak membutuhkan nilai-nilai untuk menafsirkan fenomena dunia sekitarnya, sehingga mereka mampu melakukan perspektif. Nilai-nilai sosial merupakan unsur penting di dalam pengajaran IPS. Berdasar nilai-nilai sosial yang berkembang dalam masyarakat, maka akan berkembang pula sikap-sikap sosial anak. Faktor keluarga, masyarakat, dan pribadi/tingkah laku guru sendiri besar pengaruhnya terhadapa perkembangan nilai-nilai dan sikap anak.

Keterampilan dasar IPS
Anak belajar menggunakan keterampilan dan alat-alat studi sosial, misalnya mencari bukti dengan berpikir ilmiah, keterampilan mempelajari data masyarakat, mempertimbangkan validitas dan relevansi data, mengklasifikasikan dan menafsirkan data-data sosial, dan merumuskan kesimpulan.

Karakteristik Pendidikan IPS SD
Untuk membahas karakteristik IPS, dapat dilihat dari berbagai pandangan. Berikut ini dikemukakan karakteristik IPS dilihat dari materi dan strategi penyampaiannya.
1. Materi IPS
Ada 5 macam sumber materi IPS antara lain:
a. Segala sesuatu atau apa saja yang ada dan terjadi di sekitar anak sejak dari keluarga, sekolah, desa, kecamatan sampai lingkungan yang luas negara dan dunia dengan berbagai permasalahannya.
b. Kegiatan manusia misalnya: mata pencaharian, pendidikan, keagamaan, produksi, komunikasi, transportasi.
c. Lingkungan geografi dan budaya meliputi segala aspek geografi dan antropologi yang terdapat sejak dari lingkungan anak yang terdekat sampai yang terjauh.
d. Kehidupan masa lampau, perkembangan kehidupan manusia, sejarah yang dimulai dari sejarah lingkungan terdekat sampai yang terjauh, tentang tokoh-tokoh dan kejadian-kejadian yang besar.
e. Anak sebagai sumber materi meliputi berbagai segi, dari makanan, pakaian, permainan, keluarga.
2. Strategi Penyampaian Pengajaran IPS
Strategi penyampaian pengajaran IPS, sebagaian besar adalah didasarkan pada suatu tradisi, yaitu materi disusun dalam urutan: anak (diri sendiri), keluarga, masyarakat/tetangga, kota, region, negara, dan dunia. Tipe kurikulum seperti ini disebut “The Wedining Horizon or Expanding Enviroment Curriculum” (Mukminan, 1996:5).
Sebutan Masa Sekolah Dasar, merupakan periode keserasian bersekolah, artinya
anak sudah matang untuk besekolah. Adapun kriteria keserasian bersekolah adalah sebagai berikut.
1. Anak harus dapat bekerjasama dalam kelompok dengan teman-teman sebaya, tidak boleh tergantung pada ibu, ayah atau anggota keluarga lain yang dikenalnya.
2. Anak memiliki kemampuan sineik-analitik, artinya dapat mengenal bagian-bagian dari keseluruhannya, dan dapat menyatukan kembali bagian-bagian tersebut.
3. Secara jasmaniah anak sudah mencapai bentuk anak sekolah.
Menurut Preston (dalam Oemar Hamalik. 1992 : 42-44), anak mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1. Anak merespon (menaruh perhatian) terhadap bermacam-macam aspek dari dunia sekitarnya.Anak secara spontan menaruh perhatian terhadap kejadian-kejadian-peristiwa, benda-benda yang ada disekitarnya. Mereka memiliki minat yang laus dan tersebar di sekitar lingkungnnya.
2. Anak adalah seorang penyelidik, anak memiliki dorongan untuk menyelidiki dan menemukan sendiri hal-hal yang ingin mereka ketahui.
3. Anak ingin berbuat, ciri khas anak adalah selalu ingin berbuat sesuatu, mereka ingin aktif, belajar, dan berbuat
4. Anak mempunyai minat yang kuat terhadap hal-hal yang kecil atau terperinci yang seringkali kurang penting/bermakna
5. Anak kaya akan imaginasi, dorongan ini dapat dikembangkan dalam pengalaman-pengalaman seni yang dilaksanakan dalam pembelajaran IPS sehingga dapat memahami orang-orang di sekitarnya. Misalnya pula dapat dikembangkan dengan merumuskan hipotesis dan memecahkan masalah.
Berkaitan dengan atmosfir di sekolah, ada sejumlah karakteristik yang dapat diidentifikasi pada siswa SD berdasarkan kelas-kelas yang terdapat di SD.



1. Karakteristik pada Masa Kelas Rendah SD (Kelas 1,2, dan 3)
a. Ada hubungan kuat antara keadaan jasmani dan prestasi sekolah
b. Suka memuji diri sendiri
c. Apabila tidak dapat menyelesaikan sesuatu, hal itu dianggapnya tidak penting
d. Suka membandingkan dirinya dengan anak lain dalam hal yang menguntungkan dirinya
e. Suka meremehkan orang lain
2. Karakteristik pada Masa Kelas Tinggi SD (Kelas 4,5, dan 6).
a. Perhatianya tertuju pada kehidupan praktis sehari-hari
b. Ingin tahu, ingin belajar, dan realistis
c. Timbul minat pada pelajaran-pelajaran khusus
d. Anak memandang nilai sebagai ukuran yang tepat mengenai prestasi belajarnya di sekolah.
Menurut Jean Piagiet, usia siswa SD (7-12 tahun) ada pada stadium operasional konkrit. Oleh karena itu guru harus mampu merancang pembelajaran yang dapat membangkitkan siswa, misalnya penggalan waktu belajar tidak terlalu panjang, peristiwa belajar harus bervariasi, dan yang tidak kalah pentingnya sajian harus dibuat menarik bagi siswa.


PENUTUP
IPS merupakan bidang studi baru, karena dikenal sejak diberlakukan kurikulum 1975. Dikatakan baru karena cara pandangnya bersifat terpadu, artinya bahwa IPS merupakan perpaduan dari sejumlah mata pelajaran sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi. Adapun perpaduan ini disebabkan mata pelajaran-mata pelajaran tersebut mempunyai kajian yang sama yaitu manusia.
Pendidikan IPS penting diberikan kepada siswa pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, karena siswa sebagai anggota masyarakat perlu mengenal masyarakat dan lingkungannya. Untuk mengenal masyarakat siswa dapat beljar melalui media cetak, media elektronika, maupun secara langsung melalui pengalaman hidupnya ditengah-tengah msyarakat. Dengan pengajaran IPS, diharapkan siswa dapat memiliki sikap peka dan tanggap untuk bertindak secara rasional dan bertanggungjawab dalam memecahkan masalah-masalah sosial yang dihadapi dalam kehidupannya.