Pengikut

Senin, 22 Februari 2010

(Pemerolehan Bahasa Anak, Kurikulum Dan Pembelajaran Bahasa Indonesia d Kelas Rendah, Pendekatan dan Metode Bahasa Indonesia di Kelas Rendah)


(Pemerolehan Bahasa Anak, Kurikulum Dan Pembelajaran Bahasa Indonesia d Kelas Rendah, Pendekatan dan Metode Bahasa Indonesia di Kelas Rendah) Mata Kuliah : Pendidikan Bahasa Indonesia Kelas Rendah Dosen Pembimbing : Dr. Suwarjo, M.Pd Oleh: Heru Yuono 0713053032 Semester V. B BAB I A. PERKEMBANGAN BAHASA ANAK Darjowidjojo (dalam Tarigan dkk.,1998.,dalam Faisal dkk, 2009:2-16) mengungkapkan bahwa pemerolehan bahasa anak itu tidaklah tiba-tiba atau sekaligus, tetapi bertahap. Kemajuan maupun berbahasa merekan berjalan seiring dengan perkembangan fisik, mental, intelektual, dan sosialnya. Oleh karena itu, perkembangan bahasa anak ditandai oleh keseimbangan dinamis atau suatu rangkaian kesatuan yang bergerak dari bunyi-bunyi atau ungkapan yang sederhana menuju tuturan yang lebih kompleks. Tangisan, bunyi-bunyi atau ucapan yang sederhana tak bermakna, dan celotehan bayi merupakan jembatan yang memfasilitasi alur perkembangan bahasa anak menuju kemampuan berbahasa yang lebih sempurna. Bagi anak, celotehan merupakan semacam latihan untuk menguasai gerak artikulatoris (alat ucap) yang lama kelamaan dikaitkan dengan kebermaknaan bentuk bunyi yang diujarkannya. Keterampilan berpikir diperlukan agar semua aspek keterampilan berbahasa berkembang. Piaget, Bruner, dan Vygantsky telah mengemukakan teori-teori perkembangan kognitif yang paling komprehensif (Athey, lewat Ross dan Roe, 1990:30, dalam Darmiyati dkk, 1996:5). Ketiga pakar tersebut mengetahui bahwa ada hubungan antara pikiran dan bahasa, tetapi mereka berbeda dalam hal cara pikiran dan bahasa itu berhubungan. Vygatsky yakin bahwa bahasa merupakan dasar bagi pembentukan konsep dan pikiran. Kegiaran tidak mungkin terjadi tanpa menggunakan kata-kata untuk mengungkapkan buah pikiran. Dia menegaskan bahwa bahasa diperlukan untuk setiap jenis kegiatan belajar. Berbeda dengan Vygatsky, Piaget (dalam Darmiyati, 1996:6) mengatakan bahwa bahasa itu penting untuk beberapa jenis kegiatan belajar tetapi tidak untuk semua kegiatan belajar. Piaget yakin bahwa perkembangan kognitif anak mendahului perkembangan bahasanya. Piaget membagi perkembangan kognitif ke dalam empat fase, yaitu fase sensorimotor, fase praoperasional, fase operasi konkret, dan fase operasi formal (Piaget, 1972: 49-91.,dalam http://toyo-utoy.blogspot.com/2009/05/kognitif-anak-usia-dini.html). a. Fase Sensorimotor (usia 0 - 2 tahun) Pada masa dua tahun kehidupannya, anak berinteraksi dengan dunia di sekitarnya, terutama melalui aktivitas sensoris (melihat, meraba, merasa, mencium, dan mendengar) dan persepsinya terhadap gerakan fisik, dan aknvitas yang berkaitan dengan sensoris tersebut. Koordinasi aktivitas ini disebut dengan istilah sensorimotor. Fase sensorimotor dimulai dengan gerakan-gerakan refleks yang dimiliki anak sejak ia dilahirkan. Fase ini berakhir pada usia 2 tahun. Pada masa ini, anak mulai membangun pemahamannya tentang lingkungannya melalui kegiatan sensorimotor, seperti menggenggam, mengisap, melihat, melempar, dan secara perlahan ia mulai menyadari bahwa suatu benda tidak menyatu dengan lingkungannya, atau dapat dipisahkan dari lingkungan di mana benda itu berada. Selanjutnya, ia mulai belajar bahwa benda-benda itu memiliki sifat-sifat khusus. Pada akhir usia 2 tahun, anak sudah menguasai pola-pola sensorimotor yang bersifat kompleks, seperti bagaimana cara mendapatkan benda yang diinginkannya (menarik, menggenggam atau meminta), menggunakan satu benda dengzur tujuan yangb erbeda. Dengan benda yanga da di tangannya,ia melakukan apa yang diinginkannya. Kemampuan ini merupakan awal kemampuan berpilar secara simbolis, yaitu kemampuan untuk memikirkan suatu objek tanpa kehadiran objek tersebut secara empiris. b. Fase Praoperasional (usia 2 - 7 tahun) Pada fase praoperasional, anak mulai menyadari bahwa pemahamannya tentang benda-benda di sekitarnya tidak hanya dapat dilakukan melalui kegiatan sensorimotor, akan tetapi juga dapat dilakukan melalui kegiatan yang bersifat simbolis. Kegiatan simbolis ini dapat berbentuk melakukan percakapan melalui telepon mainan atau berpura-pura menjadi bapak atau ibu, dan kegiatan simbolis lainnva Fase ini rnemberikan andil yang besar bagi perkembangan kognitif anak. Pada fase praoperasional, anak trdak berpikir secara operasional yaitu suatu proses berpikir yang dilakukan dengan jalan menginternalisasi suatu aktivitas yang memungkinkan anak mengaitkannya dengan kegiatan yang telah dilakukannya sebelumnya. Subfase fungsi simbolis terjadi pada usia 2 - 4 tahun. Pada masa ini, anak telah memiliki kemampuan untuk menggarnbarkan suatu objek yang secara fisik tidak hadir. Kemampuan ini membuat anak dapat rnenggunakan balok-balok kecil untuk membangun rumah-rumahan, menyusun puzzle, dan kegiatan lainnya. Pada masa ini, anak sudah dapat menggambar manusia secara sederhana. Subfase berpikir secara egosentris terjadi pada usia 2-4 tahun. Berpikir secara egosentris ditandai oleh ketidakmampuan anak untuk memahami perspektif atau cara berpikir orang lain. Benar atau tidak benar, bagl anak pada fase ini, ditentukan oleh cara pandangnya sendiri yang disebut dengan istilah egosentris. Subfase berpikir secata intuitif tenadi pada usia 4 - 7 tahun. Masa ini disebut subfase berpikir secara intuitif karena pada saat ini anah kelihatannva mengerti dan mengetahui sesuatu, seperti menyusun balok meniadi rumah-rumahan, akan tetapi pada hakikatnya tidak mengetahui alasan-alasan yang menyebabkan balok itu dapat disusun meniadi rumah. Dengan kata lain, anak belum memiliki kemampuan untuk berpikir secara kritis tentang apa yang ada dibalik suatu kejadian. c. Fase Operasi Konkret (usia 7- 12 tahun) Pada fase operasi konkret, kemampuan anak untuk berpikir secara logis sudah berkembang, dengan syarat, obyek yang menjadi sumber berpikir logis tersebut hadir secara konkret. Kemampuan berpikir logis ini terwujud dalam kemampuan mengklasifikasikan obyek sesuai dengan klasifikasinya, mengurutkan benda sesuai dengan urutannya, kemampuan untuk memahami cara pandang orang lain, dan kemampuan berpikir secara deduktif. d. Fase Operasi Formal (12 tahun sampai usia dewasa) Fase operasi formal ditandai oleh perpindahan dari cara berpikir konkret ke cara berpikir abstrak. Keulampuan berpikir abstrak dapat dilihat dari kemampuan mengemukakan ide-ide, memprediksi kejadian yang akan terjadi, dan melakukan proses berpikir ilmiah, yaitu mengemukakan hipotesis dan menentukan cara untuk membuktikan kebenaran hipotesis. Pemerolehan bahasa (language acquisition) adalah peoses-proses yang berlaku di dalam otak seorang anak ketika memperoleh bahasa ibunya. Proses-proses ketika anak sedang memperoleh bahasa ibunya terdiri dari dua aspek yaitu: 1. aspek performance yang terdiri dari aspek-aspek pemahaman dan pelahiran. 2. aspek kompetensi. Kedua jenis proses ini berlainan. Proses-proses pemahaman melibatkan kemampuan mengamati atau kemampuan mempersepsi kalimat-kalimat yang didengar sedangkan proses pelahiran melibatkan kemampuan melahirkan atau seorang anak akan menjadi kemampuan linguistiknya.kemampuan ini terdiri dari tiga kemampuan yaitu: kemampuan pemeroleh fonologi, semantik dan kalimat. Tiga komponen ini dieroleh anak secara serentak dan bersamaan. Pembelajaran bahasa menyangkut proses-proses yang berlaku pada masa seseorang sedang mempelajari bahasa baru setelah ia selesai memperoleh bahasa ibunya. Dengan kata lain pemerolehan bahasa melibatkan bahasa pertama sedangkan pembelajaran bahasa melibatkan bahasa kedua atau bahasa asing. B. PEMEROLEHAN BAHASA ANAK 1. HAKIKAT PEMEROLEHAN BAHASA ANAK Pemerolehan bahasa anak melibatkan dua keterampilan, yaitu kemampuan untuk menghasilkan tuturan secara spontan dan kemampuan memahami tuturan orang lain. Jika dikaitkan dengan hal itu maka yang dimaksud dengan pemerolehan bahasa adalah proses pemilikan kemampuan berbahasa, baik berupa pemahaman ataupun pengungkapan, secara alami, tanpa melalui kegiatan pembelajaran formal (Tarigan dkk. , 1998 dalam Faisal dkk, 2009:2-3). Selain pendapat tersebut Kiparsky dalam Tarigan (1988) dalam Faisal dkk (2009:2-3) mengatakan bahwa pemerolehan bahasa adalah suatu proses yang digunakan oleh anak-anak untuk menyesuaikan serangkaian hipotesis dengan ucapan orang tua sampai dapat memilih kaidah tata bahasa yang paling baik dan paling sederhana dari bahasa persangkutan. Dengan demikian, proses pemerolehan adalah proses bawah sadar. Penguasaan bahasa tidak disadari dan tidak dipengaruhi oleh pengajaran yang secara eksplisit tentang system kaidah yang ada didalam bahasa kedua. Berbeda dengan proses pembelajaran, adalah proses yang dilakukan secara sengaja atau secara sadra dilakukan oleh pembelajar di dalam menguasai bahasa. Adapun karakteristik pemerolehan bahasa menurut Tarigan dkk (1998) dalam Faisal dkk (2009:2-4) adalah : a. Berlangsung dalam situasi formal, anak-anak belajar bahasa tanpa beban dan di luar sekolah; b. Pemilikan bahasa tidak melalui pembelajaran formal dilembaga-lembaga pendidikan seperti sekolah atau kursus; c. Dilakukan tanpa sadar atau spontan; dan d. Dialami langsung oleh anak dan terjadi dalam konteks berbahasa yang bermakna bagi anak. a. Pemerolehan Bahasa Pertama Gracia (dalam Krisanjaya, 1998) dalam Resmini Novi, 2006 mengatakan bahwa pemerolehan bahasa anak dapat dikatakan mempunyai cirri berkesinambungan, memiliki suatu rangkaian kesatuan, yang bergerak dari ucapan satu kata sederhana menuju gabungan kata yang lebih rumit (sintaksis). Ada dua pandangan mengenai pemerolehan bahasa (McGraw dalam Krisanjaya, 1988) dalam Resmini Novi, 2006. Pertama pemerolehan bahasa mempunyai permulaan mendadak atau tiba-tiba. Kebebasan berbahasa dimulai sekitar satu tahun ketika anak-anak menggunakan kata-kata lepas atau terpisah dari symbol pada kebahasaan untuk mencapai aneka tujuan social mereka. Pandangan kedua menyatakan bahwa pandangan bahasa memliki suatu permulaan yang gradual yang muncul dari prestasi-prestasi motorik, social dan kemampuan kognitif pralinguistik. Strategi Pemerolehan Bahasa Anak-anak dalam proses pemerolehan bahasa pada umumnya menggunakan 4 strategi. Strategi pertama adalah meniru/imitasi. Berbagai penelitian menemukan berbagai jenis peniruan atau imitasi, seperti:imitasi spontan, imitasi perolehan, imitasi segera, imitasi lambat, dan imitasi perluasan. Strategi kedua dalam pemerolehan bahasa adalah strtegi produktivitas. Produktivitas berarti keefektifan dan keefisienan dalam pemerolehan bahasa melalui sarana komunikasi linguistic dan non linguistic (mimic, gerak, isyarat, suara dan sebagainya.) Strategi ketiga adalah strategi umpan balik, yaitu umpan balik antara strategi produksi ujaran (ucapan) dengan response. Strategi keempat adalah apa yang disebut dengan prinsip operasi. Dalam strategi ini anak dikenalkan dengan pedoman, ”gunakan beberapa prinsip operasi umum untuk memikirkan serta menggunakan bahasa” (hindarkan kekecualian, prinsip khusus: seperti kata: berajar menjadi belajar). b. Pemerolehan Bahasa Kedua Pemerolehan bahasa kedua dimaknai saat seseorang memperoleh bahasa lain setelah terlebih dahulu ia menguasai sampai batas tertentu bahasa pertamanya (bahasa ibu). Ada juga yang menyatakan istilah bahasa kedua adalah bahasa asing. Kusus bagi kondisi Indonesia, istilah bahasa pertama atau bahasa ibu, bahasa asli atau bahasa utama, berwujud dalam bahasa daerah tertentu sedangkan bahasa kedua berwujud dalam bahasa Indonesia dan bahasa asing. Terdapat perbedaan dalam proses belajar bahasa pertama dan bahasa kedua. Proses belajar bahasa pertama memiliki ciri-ciri: • Belajar tidak disengaja • Langsung sejak lahir • Lingkungan keluarga sangat menentukan • Motivasi ada karena kebutuhan • Banyak waktu untuk mencoba bahasa • Banyak kesempatan untuk berkomunikasi. Pada proses belajar bahasa kedua terdapat ciri-ciri: • Belajar bahasa disengaja • Berlangsung setelah pelajar berada di sekolah • Lingkungan sekolah sangat menentukan • Motivasi pelajar untuk mempelajarinya tidak sekuat mempelajari bahasa pertama. Motivasi itu misalnya ingin memperoleh nilai baik pada waktu ulangan atau ujian • Waktu belajar terbatas • Pelajar tidak mempunyai banyak waktu untuk mempraktikkan bahasa yang dipelajari • Bahasa pertama mempengaruhi proses belajar bahasa kedua • Umur kritis mempelajari bahasa kedua kadang-kadang telah lewat sehingga proses belajar bahasa kedua berlangsung lama • Disediakan alat bantu belajar • Ada orang yang mengkomunikasikannya, yaitu guru dan sekolah. DAFTAR PUSTAKA Resmini, Novi,dkk. 2006. Kapita Selekta Bahasa Indonesia. Bandung: UPI Press. Darmiyat dan Budiasih. (1996). Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud. Diakses dari .http://bahauddin amyasi.blogspot.com/2008/11/perkembangan-bahasa-anak.html/11/09/09/13.32/ Diakses dari. http://kuliahpsikologi.dekrizky.com/psikologi-perkembangan-kognisi-dan-bahasa/11/09/09/13.33/ Diakses dari. http://massofa.wordpress.com/2008/01/28/pemerolehan-bahasa-pertama-dan-bahasa-kedua/11/09/09/14.01/ Diakses dari. http://nahulinguistik.wordpress.com/2009/04/14/pemerolehan-bahasa-pertama/10/09/09/17.05/ Diaksesdari.http://pustaka.ut.ac.id/puslata/online.php?menu=bmpshort_detail2&ID=265/10/09/09/16.15/ Diakses dari. http://toyo-utoy.blogspot.com/2009/05/kognitif-anak-usia-dini.html/10/09/09/16.02/ Faisal dkk. (2009). Kajian Bahasa Indonesia SD. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud. BAB II KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI KELAS RENDAH A. SRUKTUR KURIKULUM DAN STANDAR KOMPETENSI MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA Secara garis besar Struktur kurikulum berisi : 1. Sejumlah mata pelajaran 2. Kegiatan belajar pembiasaan 3. Alokasi waktu Mata pelajaran merupakan seperangkat kompetensi dasar yang dibakukan dan substansi pelajaran mata pelajaran tertentu per satuan pendidkan dan per kelas selama masa persekolahan. Mata pelajaran memuat sejumlah kompetensi dasar yang harus dicapai oleh siswa per kelas dan per satuan pendidikan sesuai dengan tingkatan pencapian hasil belajarnya. Mata pelajaran mengutamakan kegiatan instruksional yang berjadwal dan berstruktur. Yang dimaksud kegiatan belajar pembiasaan yaitu kegiatan yang mengutamakan pembentukan dan pengendalian yang diwujudkan dalam kegiatan rutin, spontan, dan pengenalan unsur-unsur penting kehidupan masyarakat. Alokasi waktu menunjukan satuan waktu yang digunakan untuk tatap muka. Kompetensi merupakan pengetahuan, ketrampilan, sikap dan nilai-nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Kompetensi dapat dikenali melalui hasil belajar dan indikatornya yang dapat diukur dan diamati. Kompetensi dapat dicapai melalui pengalaman belajar yang dikaitkan dengan bahan kajian dan bahan pelajaran secara kontekstual. Kompetensi dikembangkan sejak taman kanak-kanak, kelas I SD sampai kelas XII yang menggambarkan satu rangkaian kemampuan yang bertahap, berkelanjutan, dan kensisten seiring dengan perkembangan psikologis peserta didik. Ruang lingkup standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia SD dan MI terdiri dari aspek : 1. Mendengarkan; seperti mendengarkan berita, petunjuk, pengumuman, perintah, bunyi atau suara, bunyi bahasa, lagu, pesan, penjelasan, laporan, ceramah, khotbah, pidato, pembicara narasumber, dialog atau percakapan, pengumuman, serta perintah yang didengar dengan memberikan respon secara tepat serta mengapresiasi dan berekpresi sastra melalui kegiatan mendengarkan hasil-hasil sastra. 2. Berbicara; seperti mengungkapkan gagasan dan perasaan; menyampaikan sambutan, dialog, pesan, pengalaman, suatu proses, menceritakan diri sendiri, teman, keluarga, masyarakat, benda, tanaman, binatang, pengalaman, gambar tunggal, gambar seri, kagiatan sehari-hari, peristiwa, tokoh kesukaan/ketidaksukaan, kegemaran, peraturan, tata tertib, petunjuk, dan laporan serta mengapresiasi dan berekpresi sastra melalui kegiatan melisankan hasil-hasil sastra. 3. Membaca; seperti membaca huruf, suku kata, kalimat, paragraph, berbagai teks bacaan, denah; petunjuk, tata tertib, pengunguman, kamus, enslikopedia serta mengapresiasi dan berekpresi sastra melalui kegiatan membaca hasil-hasil sastra. 4. Menulis; seperti menulis karangan naratif dan nonnaratif dengan tulisan rapi dan jelas dengan memperlihatkan tujuan dan ragam pembaca, pemakaian ejaan dan tanda baca, dan kosakata yang tepat dengan menggunakan kalimat majemuk dan kalimat tunggal serta mengapresiasi dan berekspresi sastra melalui kegiatan menulis hasil karya sastra berupa cerita dan puisi. B. HAKIKAT PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI KELAS RENDAH 1. Teori Pembelajaran di Kelas Rendah Model pembelajaran yang diasumsikan cocok bagi murid kelas rendah (kelas I-II SD) adalah model-model pembelajaran yang lebih didasarkan pada interaksi sosial dan personal (Joyce dan Weil, 1992 dalam Hartati dkk, 2006:81) atau model-model interaksi dan transaksi (Brady, 1985 dalam Hartati dkk, 2006:81) daripada model-model yang didasarkan pada “behavioral” atau “ekspository”. Dari model-model pembelajaran tersebut dapat diidentifikasi berbagai prinsip pembelajaran sebagai berikut : 1. Libatkan Murid Supaya Aktif Belajar 2. Dasar pada perbedaan individual 3. Kaitkan antara teori dan praktik 4. Kembangkan komunikasi dan kerjasama dalam belajar 5. Beranikan anak dalam pengambilan resiko dan belajar dari kesalahan 6. Belajar sambil berbuat dan bermain 7. Sesuaikan pembelajaran dengan taraf perkembangan kognitif yang masih pada taraf operasi kongkrit.  Model Pembelajaran di Kelas Rendah a) Pertemuan kelompok (Partner-partner dalam belajar) Langkah-langkah pembelajaran 1. Murid menghadapi situasi “puzzling” (baik direncanakan atau tidak direncanakan) yang diidentifikasi oleh guru sebagai objek study. 2. Murid mengeksplorasi reaksi terhadap situasi itu 3. Merumuskan tugas dan mengorganisasikan pelaksanaannya 4. Mempelajari secara independent dan kelompok 5. Menganalisis kemajuan dan proses 6. Mengulangi lagi kegiatan 1-5 jika hasil analisis belum memadai b) Role Playing (Bermain Peran) Langkah-langkah 1. Mengidentifikasi atau memperkenalkan masalah, dam membuat masalah jadi jelas. Menginterpretasi latar belakang masalah dan isu-isu, menjelaskan prosedur pelaksanaan role playing. 2. Memilih partisipan Menganalisis peran-peran dan memilih bermain peran 3. Menetapkan tahapan Menetapkan alur laku (action), menyatakan kembali peran-peran, memasuki situasi masalah 4. Menyiapkan pengamat Menetapkan apa yang harus diamati, memberi tugas pengamatan pada murid. 5. Pelaksanaan Melaksanakan role playing, menjaga keberlangsungan pelaksanaannya dan menghentikannya. 6 Diskusi dan evaluasi Menelaah kembali pelaksanaan role playing, mendiskusikan fokus utama role playing, menyiapkan pelaksanaan ulang role playing 7. Pelaksanaan ulang Berganti peran (yang berlawanan) misalnya semula berperan sebagai anak sekarang berperan sebagai ibu. 8. Diskusi dan evaluasi (lihat langkah keenam) 9. Berbagi pengalaman dan generalisasi Menghubungkan masalah yang diperankan itu dengan pengalaman nyata dan masalah-masalah yang ada pada saat ini, kemudian menyimpulkan prinsip-prinsip umum tingkah laku. 1. Peranan Guru dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas Rendah Guru merupakan kunci sentral untuk keberhasilan suatu pengajaran. Terlebih lagi apabila lingkungan tempat pembelajaran kurang menguntungkan, peran guru sangat berarti bagi siswa karena penentu keberhasilan suatu pengajaran sangat dipengaruhi oleh lingkungan, orang tua dan sekolah. Kedudukan guru sebagai komponen pengajaran di samping siswa, kurikulum, metode, alat pelajaran, dan alat evaluasi merupakan penentu keberhasilan. Dengan demikian guru berperan sebagai pembimbing, model, innovator, adminisator dan evaluator. Terlebih lagi dalam pelajaran Bahasa Indonesia. 2. Pendekatan Mengajar Beberapa pendekatan yang masih dominant digunakan dalam pembelajaran bahasa, antara lain : pendekatan komunikatif, pendekatan CBSA, Pendekatan intregatif dan tematik. a) Pendekatan Komunikatif Yang dimaksudkan dengan komunikatif adalah pembelajaran bahasa yang mengutamakan kemampuan penggunaan bahasa dala konteks komunikasi. Prinsip-prinsip pengajaran Bahasa Indonesia dengan pendekatan komunikatif sebagai berikut : a. Pragmatik, struktur dan kosakata tidak disajikan sebagai pokok bahasan yang berdiri sendiri karena kosakata, pragmatic dan struktur telah tercakup dalam pengajaran keempat keterampilan pembelajaran bahasa tersebut. b. Pembelajaran bahasa untuk melatih kepekaan siswa maksudnya, siswa tidak hanya diinformasikan secara lugas atau langsung tetapi juga harus mampu memahami imformasi yang disampaikan secara tersirat. c. Pembelajaran bahasa selain untuk meningkatkan keterampilan berbahasa, bernalar, dan memperluas wawasan juga mengembangkan kemampuan menghayati keindahan karya sastra, misal membaca puisi, menyanyi, bercerita dan bermain drama. d. Pembelajaran bahasa juga diarahkan untuk membekali siswa menguasai bahasa lisan dan tulis, misalnya mengungkapkan informasi secara lisan maupun tulis. b) Pendekatan Cara Siswa Belajar Aktif (CBSA) Yang dimaksud dengan CBSA adalah cara belajara yang mengutamakan kadar keterlibatan siswa secara aktif baik fisik maupun mental. Yang perlu dipahami dalam melaksanakan CBSA antara lain adalah anak dapat belajar secara kelompok ataupun individual. c) Pendekatan Integratif dan Tematik Yang dimaksud dengan pendekatan intregatif adalah pendekatan pembelajaran bahasa yang disajikan secara utuh tidak terpotong-potong dan bersumber pada satu tema. Maksudnya keempat aspek pengajaran bahasa yaitu mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis serta kebahasaan yang disampaikan kepada siswa dipadukan secara intregative, misalnya dengan menggunakan tema “Kesehatan”, keempat aspek kebahasaan bersumber pada kesatuan tema kesehatan. C. MATERI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA Berdasarkan kurikulum 2004 (KBK) materi pembelajarn Bahasa Indonesia di kelas rendah terdiri dari : keterampilan berbahasa (mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis), kebahasaan (tatabunyi, tatabentuk, tatamakna dan tatakalimat), sastra (puisi, prosa, dan drama). Secara rinci materi pembelajaran diklasifikasikan dibawah ini : Materi Pembelajaran Kelas I Sekolah Dasar Mendengarkan Berbicara Membaca Menulis  Pengucapan bunyi atau suara tertentu di sekitar  Pelafalan bunyi bahasa  Tanggapan sesama nonverbal terhadap informasi yang didengarkan  Teks yang terdiri atas berbagai kalimat perintah (kalimat imperative)  Dekripsi tentang benda-benda disekitar  Kalimat berita (kalimat deklaratif) Dongeng  Kalimat sederhana untuk memperkenalkan diri  Kalimat sapaan  Gambar dan gambar seri  Nama warna, nama&fungsi anggota tubuh & benda-benda disekitar  Cerita pengalaman yang berkaitan dengan perjalanan dari rumah ke sekolah  Deskripsi benda-benda disekitar, kalimat berita (deklaratif)  Informasi tentang diri sendiri (minat, keinginan, cita-cita.dsb.  Kalimat yang mengucapkan kesukaan atau ketidaksukaan  Gambar tunggal  Gambar seri  Gambar dalam buku  Suku kata  Kata  Label  Angka arab  Kalimat sederhana  Teks sastra dan nonsastra  Paragraph pendek berisi kalimat sederhana (5-8 kalimat)  Garis putus-putus  Garis lurus  Garis lengkung  Lingkaran  Bentuk huruf  Huruf  Kata  Kalimat  Angka arab  Kalimat atau beberapa kalimat  Penulisan huruf, kata dan kalimat  Label nama  Gambar sederhana  Pengisian kalimat rumpang berdasarkan gambar  Identitas diri, nama, alamat  Kalimat sederhana dengan huruf sambung (3-5 kalimat) DAFTAR PUSTAKA Darmiyat dan Budiasih. (1996). Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud. Diakses dari .http://bahauddin amyasi.blogspot.com/2008/11/perkembangan-bahasa-anak.html/11/09/09/13.32/ Diakses dari. http://kuliahpsikologi.dekrizky.com/psikologi-perkembangan-kognisi-dan-bahasa/11/09/09/13.33/ Diakses dari. http://massofa.wordpress.com/2008/01/28/pemerolehan-bahasa-pertama-dan-bahasa-kedua/11/09/09/14.01/ Diakses dari. http://nahulinguistik.wordpress.com/2009/04/14/pemerolehan-bahasa-pertama/10/09/09/17.05/ Diaksesdari.http://pustaka.ut.ac.id/puslata/online.php?menu=bmpshort_detail2&ID=265/10/09/09/16.15/ Diakses dari. http://toyo-utoy.blogspot.com/2009/05/kognitif-anak-usia-dini.html/10/09/09/16.02/ Faisal dkk. (2009). Kajian Bahasa Indonesia SD. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud. Resmini, Novi,dkk. 2006. Kapita Selekta Bahasa Indonesia. Bandung: UPI Press BAB III A. PENDEKATAN PEMBELAJARAN BAHASA . Anthoni (1963:63-70) dalam Tarigan dkk. (2006:3.7) pendekatan adalah seperangkat asumsi korelatif yang menangani hakikat bahasa, pengajaran bahasa, dan pembelajaran bahasa. Pendekatan bersifat aksiomatik. Metode merupakan rencana keseluruhan penyajian bahan bahasa secara rapi, tertib, yang tidak ada bagian-bagiannya yang berkontradiksi dan kesemuanya didasarkan pada pendekatan terpilih. Metode bersifat prosedural. 1. Gambar Edward M. Anthoni Teknik adalah cara kongkret yang dipakai saat proses pembelajaran berlangsung. Guru dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama. Satu metode dapat diaplikasikan melalui berbagai teknik pembelajaran. Bungkus dari penerapan pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran tersebut dinamakan model pembelajaran. (Dr.Suyatno : 2008 http://hoesnaeni.wordpress.com/2009/01/24/beda-strategi-model-pendekatan-metode-dan-teknik-pembelajaran/ ) 2. Gambar Kaitan metode, pendekatan, desain, dan prosedur. Richards dan Rodgers (1986) dalam Tarigan dkk. (2006:3.7) menyempur-nakan pendapat Anthoni tersebut mereka menambahkan peranan guru, siswa, bahan, tujuan, silabus dan tipe kegiatan pembelajaran dan pengajaran pada segi metode, sehingga muncul istilah desain atau rancang-bangun. Istilah teknik diganti dengan istilah prosedur. Kaitan antara metode, pendekatan, desain dan prosedur dapat digambar seperti gambar diatas. Pendekatan adalah asumsi bersifat aksiomatik mengenai hakikat bahasa, pengajaran bahasa, dan belajar bahasa yang digunakan sebagai landasan dalam merancang, melaksanakan proses belajar mengajar bahasa. Tarigan dkk. (2006) mengatakan pendekatan yang digunakan dalam pengajaran bahasa Indonesia adalah pendekatan tujuan, pendekatan komunikasi, pendekatan pragmatik, pendekatan CBSA, pendekatan ketrampilan proses, pendekatan spiral dan pendekatan lintas materi. Menurut Tatat Hartati dkk. pendekatan merupakan seperangkat asumsi yang aksiomatik tentang hakikat bahasa, asumsi tentang bahasa bermacam-macam, antara lain asumsi menganggap bahasa sebagai kebiasaan, bahasa sebagai sistem komunikasi dan ada pula yang menganggap bahasa sebagai seperangkat peraturan dalam kaidah. Di bawah ini akan dibahas beberapa pendekatan yang selayaknya dipahami oleh guru-guru sekolah dasar, baik guru kelas maupun guru bidang studi. 1. Pendekatan Behaviorisme Pendekatan ini berpandangan bahwa proses penguasaan kemampuan anak sebenarnya dikendalikan dari luar sebagai akibat dari berbagai rangsangan yang diterapkan lingkungan kepada anak. 2. Pendekatan Nativisme Pendekatan ini berpandangan bahwa anak sudah dibekali secara ilmiah dengan apa yang disebut LAD (language acquisition device). 3. Pendekatan Kognitif Bahasa dalam pandangan kognitif distrukturlisasi dan dikendalikan oleh nalar. Dengan demikian kognitif sangat berpengaruh pada perkembangn bahasa. 4. Pendekatan Interaksi Social Inti pembelajaran dari interaksi sosial adalah pengaruh lingkungan dari proses interaksi, oleh karena itu siswa dituntut untuk mencari pertanyaan atau mencari masalah sendiri dan berusaha menyelesaikan masalah sendiri. Hal ini akan meningkatkan kreativitas dan berfikir kritis mereka. 5. Pendekatan Tujuan Pendekatan ini sering dikaitkan dengan cara belajar tuntas artinya jika suatu proses pembelajaran tuntas berarti kegiatan belajar mengajar dianggap berhasil dengan ketentuan sedikit-sediktnya 85% dari jumlah siswa yang mengikuti pelajaran itu minimal menguasi 75% dari bahan ajar yang diberikan guru. 6. Pendekatan Struktural Pendekatan ini berpandangan bahwa bahasa adalah data yang didengar atau ditulis untuk dianalisis sesuai dengan tata bahasa. 7. Pendekatan Komunikatif Pendekatan ini didasarkan pada pandangan bahwa bahasa adalah sarana komunikasi, karena itu tujuan utama pengajaran bahasa adalah meningkatkan keterampilan berbahasa siswa. 8. Pendekatan Pragmatik Pendekatan ini mengutamakan keterampilan berbahasa dengan memperhatikan faktor-faktor penentu berbahasa, seperti: pemeran serta, tujuan, situasi, konteks juga aspek pengembangan seperti: moral, sosial, dan intelektual. 9. Pendekatan Whole Language Pendekatan ini berfungsi untuk mengembangkan dan mengajarkan bahasa yang dilaksanakan secara menyeluruh yang meliputi: a. mendengarkan b. berbicara b. membaca c. menulis Disamping itu pendekatan ini juga mementingkan multimedia, lingkungan dan pengalaman belajar anak. 10. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching And Learning Atau CTL) Pendekatan ini merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dalam hal ini siswa perlu mengerti apa makna belajar, manfaatnya, serta bagaimana mencapainya. 11. Pendekatan Terpadu Pendekatan ini dalam bahasa hampir sama dengan pendekatan “whole language”, yang pada dasarnya pembelajaran bahasa senantiasa harus terpadu, dan tak terpisahkan antara keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca dan menulis). Disamping itu untuk kelas-kelas rendah pendekatan ini menggunakan lintas bidang studi, yang artinya pembelajaran bahasa Indonesia dapat disatukan dengan mata pelajaran lain. 12. Pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) Pendekatan ini merupakan suatu system pembelajaran yang menekankan kadar keterlibatan siswa secara fisik, mental, intelektual dan emosional untuk mencapai tujuan pembelajaran. Misal dalam pembelajaran membaca permulaan dikelas satu, dapat dilakukan secara individual, kelompok dan klasikal. Kegiatan secara individual dapat membaca nyaring (bagi siswa yang sudah lancar membaca). 13. Pendekatan Keterampilan Proses Keterampilan proses dalam mata pelajaran bahasa Indonesia meliputi kegiatan mengamati, menggolongkan, menafsirkan, menerapkan, dan mengkomunikasikan. B. METODE DAN STRATEGI PEMBELAJARAN BAHASA Setelah para guru memahami pendekatan-pendekatan dalam program pengajaran bahasa, selanjutnya guru menentukan metode-metode apa yang akan diterapkannya dalam proses pembelajaran. Metode adalah rencana penyajian bahan secara menyeluruh dengan urutan yang sistematis berdasarkan pendekatan atau approach tertentu dalam Tatat Hartati dkk. (2006). Sedangkan Tarigan dkk. (2006) perbedaan pandangan mengenai teori belajar juga mewarnai perbedaan metode. Teori belajar merupakan landasan suatu metode yang berorientasi dua hal. Pertama, proses kognitif yakni proses yang terjadi dalam belajar suatu bahasa. Kedua, kondisi belajar yakni kondisi-kondisi yang mendukung berlangsungnya proses belajar bahasa berjalan baik. Metode pembentukan kebiasaan (habit formation) adalah metode yang berorientasi pada proses. Metode alamiah (natural method) berorientasi pada situasi di mana belajar itu terjadi dan kondisi belajar. Metode berfungsi sebagai jembatan penghubung antara teori dan praktik, antara pendekatan dan teknik. berikut ini adalah metode yang digunakan dalam Kurikulum 2004 maka langkah dilakukan setelah guru menetapkan kompetensi dasar beserta indikato -indikatornya. Beberapa metode ini digunakan secara terpisah maupun digabungkan dengan metode lain atau beberapa metode dalam pelaksanaannya. 1. Metode Langsung Metode ini menerapkan secara langsung semua aspek dalam bahasa yang diajarkan. Misalnya, dalam suatu pembelajaran pelajaran bahasa Indonesia didaerah bahasa pengantar dikelas adalah bahasa Indonesia tanpa diselingi bahasa daerah/bahasa ibu. 2. Metode Alamiah Metode ini berprinsip bahwa mengajar bahasa baru (seperti bahasa kedua) harus sesuia dengan kebiasaan belajar bahasa yang sesungguhnya seperti yang dilalui anak-anak ketika belajar bahasa ibunya.proses alamiah sangat berpengaruh pada metode ini. 3. Metode Tatabahasa Metode ini memusatkan pada pembelajaran vokabulerr (kosakata), kelebihan metode ini terletak pada kesederhanaannya dan sangat mudah dalam pelaksanaannya. 4. Metode Terjemahan Metode terjemahan (the translation method) adalah metode yang lazim digunakan dalam pengajaran bahasa asing, termasuk alam pengajaran bahasa Indonesia yang umumnya merupakan bahasa kedua setelah bahasa penggunaan bahasa ibu/daerah. 5. Metode Pembatasan Bahasa Metode ini menekankan pada pembatasan dan penggradasian kosakata dan struktur bahasa yang akan diajarkan, kata-kata dan pola kalimat yang tinggi pemakaiannya dimasyarakat diambil sebagai sumber bacaan dan latihan penggunaan bahasa. 6. Metode Linguistik Prinsip metode ini adalah pendekatan ilmiah karena yang menjadi landasan pembelajaran adalah hasil dari penelitian para linguis (ahli bahasa). Urutan penyajian bahan pembelajaran disusun sesuai tahap-tahap kesukaran yang mungkin dialami siswa. Dengan demikian pada metode ini tidak dilarang menggunakan bahasa ibu murid, karena bahasa ibu murid akan memperkuat pemahaman bahasa tersebut. 7. Metode SAS Metode SAS (Struktural Analitik Sintetik) bersumber pada ilmu jiwa yang berpandangan bahwa pengamatan dan penglihatan pertama manusia adalah global atau bersifat menyeluruh. Dengan demikian segala sesuatu yang diperkenalkan pada murid haruslah mulai ditunjukan dan diperkenalkan struktur totalitasnya atau secara global. 8. Metode Bibahasa Metode ini hampir sama dengan metode linguistik, bahasa ibu murid digunakan untuk menerangkan perbedaan–perbedaan fonetik, kosakata, struktur kalimat dan tata bahasa kedua bahasa itu. 9. Metode Unit Metode ini berdasarkan pada 5 tahap, yaitu: a. mempersiapkan murid untuk menerima pengajaran b. penyajian bahan c. bimbingan melalui proses induksi d. generalisai dan penggunaannya di sekolah dasar Perencanaan atau disebut desain yang disusun di depan kelas. Ada tiga tahapan kegiatan teknik di depan kelas. Pertama, kegiatan penyajian dan penjelasan bahan pembelajaran. Kedua, kegiatan latihan yang dilaksanakan oleh siswa dalam rangka memahami bahan pembelajaran. Ketiga, kegiatan umpan balik untuk menentukan arah kegiatan belajar berikutnya sekaligus merupakan pengulangan atau lanjutan kegiatan belajar berikutnya. Setelah memahami metode pembelajaran bahasa guru juga harus mengetahui teknik-teknik atau strategi pengajaran yang lazim digunakan. Teknik bersifat prosedural. Teknik yang baik dijabarkan metode dan serasi dengan pendekatan. Berikut sejumlah teknik pengajaran bahasa Indonesia yang biasa dipraktikan guru bahasa Indonesia. 1. Teknik Ceramah Pelaksanaan teknik ceramah dikelas rendah dapat berbentuk cerita kenyataan, dongeng atau informasi tentang ilmu pengetahuan. 2. Teknik Tanya Jawab Teknik tanya jawab dapat diterapkan pada latihan keterampialn menyimak, membaca, berbicara dan menulis. Selain guru bertanya pada murid, murid juga dapat bertanya pada guru. 3. Teknik Diskusi Kelompok Teknik ini dapat dilakukan di kelas rendah dengan bimbingan guru. Peran guru terutama dalam pemilihan bahan diskusi, pemilihan ketua kelompok dan memotivasi siswa lainnya agar mau berbicara atau bertanya. 4. Teknik Pemberian Tugas Teknik ini bertujuan agar siswa lebih aktif dalam mendalami pelajaran dan memiliki keterampilan tertentu, untuk siswa kelas rendah tugas individual seperti membuat catatan kegiatan harian atau disuruh menghapal puisi atau lagu. 5. Teknik Bermain Peran Teknik ini bertujuan agar siswa menghayati kejadian atau peran seseorang dalam hubungan sosialnya. Dalam bermain peran siswa dapat mencoba menempatkan diri sebagai tokoh atau pribadi tertentu, misal: sebagai guru, sopir, dokter, pedagang, hewan, dan tumbuhan. Setelah itu diharapkan siswa dapat menghargai jasa dan peranan orang lain, alam dalam kehidupannya. 6. Teknik Karya Wisata Teknik ini dilaksanakan dengan cara membawa langsung siswa kepada obyek yang berkaitan dengan materi pembelajaran. Misalkan : museum, kebun binatang, tempat pameran atau tempat karya wisata lainnya. 7. Teknik Sinektik Strategi pengajaran sinektik merupakan susatu strategi untuk menjadikan suatau masyarakat intelektual yang menyediakan berbagai siswa untuk bertindak kreatif dan menjelajahi gagasan-gagasan baru dalam bidang-bidang ilmu pengetahuan alam, teknologi, bahasa dan seni. C. MODEL PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA MENYELURUH (WHOLE LANGUAGE) DAN MODEL PEMBELAJARAN TERPADU A. MODEL PEMBELAJARAN BAHASA MENYELURUH 1. Teori pembelajaran bahasa menyeluruh Konsep bahasa menyeluruh telah diperkenalkan oleh Jerome Harrte dan Carolyn Burke pada tahun 1977, sesudah itu Doroty Waston menyusul dengan istilah ”Teacher Whole Languge” (TWL) pada tahun 1978 kemudian Ken Goodman memperkenalkan kaidah ini dengan nama ”Whole Language Comperhension Centered Reading Program” pada tahun 1979. Konsep bahasa menyeluruh telah digunakan pada anak usia dini (anak usia pra sekolah dan SD kelas rendah) dalam pengembangan bahasa anak. Kaidah ini ternyata telah berhasil dan membantu anak-anak memahami bahasa secara menyeluruh. Menurut Ferguson (dalam pendidikan bahasa dan sastra di kelas rendah, 2006:119) bahwa kaidah bahasa menyeluruh sangat penting untuk meningkatkan keterampilan mendengar, berbicara, membaca dan menulis diawali dengan pembelajaran perilaku bahasa yang alamiah yaitu bercakap-cakap. Sedangkan menurut Cullinan (dalam pendidikan bahasa dan sastra dikelas rendah, 2006:119) mengidentifikasikan bahwa kaidah ini berpusat pada bacaan atau program gabungan seni bahasa yang bermakna dan berfungsi. Bergeron dalam (pendidikan bahasa dan sastra di kelas rendah, 2006:119) mengidentifikasikan bahasa menyeluruh sebagai suatu konsep terdiri dari 2 unsur pendukung yaitu perkembangan bahasa dan pendekatan pengajaran. 2. Materi pembelajaran Model pembelajaran bahasa menyeluruh, sangat tepat digunaan dalam belajar bahasa indonesia di kelas rendah (I, II), oleh karena itu, sebelum guru merancang pembelajaran, sebaiknya memahami dan menganalisis terlebih dahulu materi pokok bahasa di kelas rendah tersebut. 3. Desain pembelajaran Whole Language adalah suatu pendekatan pembelajaran bahasa yang secara utuh (menyeluruh). Melalui pendekatan ini pembelajaran dilaksanakan secara konstektual, logis, kronologis, dan komunikatif. Dalam pendekatan ini terjadi hubungan interaktif antara 4 ketrampilan berbahasa yaitu mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Rancangan atau desain model pembelajaran sebagai berikut : a. Persiapan : tema, kebahasaan, KD, hasil belajar, indikator, materi pokok, media, organisasi pembelajaran, evaluasi. b. Pembelajaran : diskusi tema, organisasi dan presentasi c. Pembelajaran : presentasi dan evaluasi B. MODEL PEMBELAJARAN TERPADU Salah satu karakteristik pengajaran bahasa Indonesia berdasarkan Kurikulum 2004 adalah keterpaduan. Keterpaduan itu dapat dilihat tujuan, bahan dan kegiatan belajar. Tujuan pengajaran pengajaran bahasa Indonesia adalah meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi Tarigan dkk. (2006). Pembelajaran kebahasaan, penggunaan, pemahaman, dan apresiasi melalui bahasa lisan dan tulisan harus diarahkan untuk menumbuhkan kemampuan berkomunikasi secara baik dan benar. Pembelajaran terpadu merupakan suatu model pembelajaran yang membawa pada kondisi pembelajaran yang relevan dan bermakna untuk anak. Pembalajaran terpadu merupakan media pembelajaran yang secara efektif membantu anak untuk belajar secara terpadu dalam mencari hubungan-hubungan dan keterkaitan antara apa yang telah mereka ketahui dengan hal-hal baru atau informasi baru yang mereka temukan dalam proses belajarnya sehari-hari. Collins dan Dixon (1991:6) dalam (http://sobarnasblog.blogspot.com/2009/04/model-pembelajaran-terpadu-di-sekolah.html) menyatakan tentang pembelajaran terpadu sebagai berikut: integrated learning occurs when an authentic event or exploration of a topic in the driving force in the curriculum. Secara singkat dapat disimpulkan bahwa pada hakikatnya pembelajaran terpadu adalah upaya memadukan berbagai materi belajar yang berkaitan, baik dalam satu disiplin ilmu maupun antar disiplin ilmu dengan kehidupan dan kebutuhan nyata para siswa, sehingga proses belajar anak menjadi sesuatu yang bermakna dan menyenangkan anak. Keterpaduan pembelajaran bahasa indonesia dengan mata pelajaran lainnya dapat berlangsung dalam beberapa bentuk : a. Model keterhubungan b. Model jaring laba-laba c. Model keterpaduan DAFTAR PUSTAKA Darmiyati dan Budiasih. (1996). Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Jakarta : Dirjen Dikti Depdikbud. Diakses dari http://hoesnaeni.wordpress.com/2009/01/24/beda-strategi-model-pendekatan-metode-dan-teknik-pembelajaran/06/10/09/ 14.12 Diakses dari http://garduguru.blogspot.com/2008/03/beda-strategi-model-metode-dan-teknik.html/06/10/09/17:52:00 Diakses dari http://sobarnasblog.blogspot.com/2009/04/model-pembelajaran-terpadu-di-sekolah.html)/060/10/09/ Tatat Hartati, dkk. (2006). Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Bandung : UPI PRESS Tarigan Djago, dkk. (2006). Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Jakarta: Universitas Terbuka

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar